Sengketa

Korut Mesti Punya Langkah Nyata

Kompas.com - 15/01/2011, 19:17 WIB
SEOUL, KOMPAS.com - Jepang dan Korea Selatan pada Sabtu (15/1/2011) mengatakan bahwa Pyongyang harus mengambil langkah nyata untuk menunjukkan komitmen penghapusan senjata nuklirnya sebelum pembicaraan enam pihak dapat dimulai kembali.     Dalam satu pertemuan di Seoul, Menteri Luar Negeri Jepang Seiji Maehara dan Menteri Luar Negeri Korsel Kim Sung-Hwan sepakat bahwa Korut harus terlibat dalam pembicaraan produktif dengan Korsel sebelum pembicaraan lain di antara enam pihak berlangsung. "Kami telah menegaskan bahwa Korut harus menunjukkan keseriusannya tentang tujuan denuklirisasi dengan mengambil langkah konkrit sehingga dapat menciptakan atmosfir yang kondusif untuk dimulainya kembali pembicaraan enam pihak," kata Kim dalam jumpa pers setelah pertemuan itu.     Korut keluar dari pembicaraan perlucutan nuklir enam pihak pada April 2009 dan melakukan percobaan senjata atom keduanya sebulan kemudian sebagai protes terhadap kebijakan "memusuhi" yang dilakukan Amerika Serikat.     Forum tersebut diketuai oleh sekutu utama Korut, China, dan melibatkan kedua Korea, AS, Jepang serta Rusia.     Maehara mengatakan ia sependapat dengan Kim bahwa pembicaraan kedua Korea harus terlebih dahulu dilakukan sebelum Jepang dapat terlibat di pembicaraan bilateral langsung dengan Korut. "Korut harus mengambil langkah nyata untuk menunjukkan niat mereka dalam menepati janji untuk mengungkap program nuklirnya dengan imbalan bantuan serta konsesi diplomatik," kata Maehara dalam jumpa pers itu.     Korut pada 23 November lalu melakukan serangan artileri berpeluru tajam ke pulau perbatasan milik Korsel, menewaskan empat orang termasuk warga sipil Korsel, yang kemudian memancing ketegangan regional.     Pyongyang juga meningkatkan ancaman keamanan pada November lalu dengan mengungkap pengoperasian pabrik pengayaan uranium yang akan dikunjungi para ahli AS, yang menurut pejabat dan pakar AS dapat digunakan untuk memproduksi uranium tingkat tinggi untuk menambah jumlah stok plutonium mereka.     Korut telah tiga kali melakukan percobaan misil balistik antarbenua, yang terakhir dilakukan pada April 2009 dan sempat melintasi Jepang dan mendarat di perairan Pasifik.     Maehara juga mendesak tindakan terkait isu penculikan. Korut pada 2002 mengakui bahwa mereka pernah menculik warga sipil Jepang yang sedang melakukan perjalanan ke luar negeri dan sejumlah pantai pada 1970an dan 1980an untuk mengajarkan budaya serta bahasa Jepang kepada mata-mata mereka.     Korut telah mengembalikan lima korban dan menyatakan kasus itu selesai, namun Jepang berkeras bahwa setidaknya masih ada tujuh warga mereka yang masih hidup.     Maehara mengunjungi Korsel untuk pertama kali sejak ia menjabat pada September lalu.     Kunjungan satu harinya dilakukan di tengah upaya pendekatan diplomatik dan militer dari kedua negara tetangga itu guna menghadapi ancaman yang muncul dari Korut terhadap keamanan regional.
 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau