Bentrok warga soal sawit

Tujuh Warga Sarolangun Dibebaskan

Kompas.com - 16/01/2011, 14:27 WIB

SAROLANGUN, KOMPAS.com — Tujuh warga Desa Karang Mendapo, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Jambi, yang sempat ditahan dan diperiksa di Kepolisian Resor Sarolangun, akhirnya dibebaskan. Para petani diminta untuk sementara tidak melakukan panen sawit di perkebunan plasma untuk menghindari eskalasi konflik.

Kepala Kepolisian Resor Sarolangun Ajun Komisaris Besar Rosidi mengatakan, tujuh petani sawit yang dimintai keterangan telah dibebaskan pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00. Mereka adalah Afrizal (28), Lia Jayanti (24), Bahrur (30), Thamrin (50), Hasan (30), Mawit (45), dan Sopiati (35). Menurut Rosidi, pihaknya sejauh ini tidak mendapati adanya bukti para petani ini pelaku pencurian buah sawit.  

"Setelah kami periksa, diketahui mereka hanya mengawasi kegiatan pemanenan, dan tidak terbukti mencuri sawit. Namun, mereka tetap kami minta menandatangani surat pernyataan siap untuk dimintai keterangan kembali apabila dibutuhkan," tutur Rosidi.

Terkait bentrok antara aparat dan petani pada Sabtu lalu, ujar Rosidi, pihaknya mulai memeriksa 10 personel polisi. Sementara dari pihak petani belum satu pun dimintai keterangan untuk menghindari peningkatan konflik.

Rosidi mengimbau para petani untuk menahan diri agar konflik tidak semakin panjang. Kegiatan pemanenan sawit dalam perkebunan plasma untuk sementara waktu dihentikan. Pihaknya menyiapkan dialog antara petani dan PT Kresna Duta Agroindo (KDA) di Kantor Bupati Sarolangun yang dijadwalkan Senin (17/1/2011) pagi.

Sementara itu, dalam keterangan persnya, Ketua Koperasi Tiga Serumpun yang bekerja sama dengan masyarakat di delapan desa, termasuk Karang Mendapo, yang bermitra dengan PT KDA, menyatakan bahwa selama dua tahun terakhir terjadi pendudukan kebun oleh salah satu kelompok. Hal itu berakibat cicilan kredit pembangunan kebun ke bank tersendat. Atas desakan pemilik lahan, pihak koperasi akhirnya mengambil alih pengelolaan kebun tersebut, dan meminta kepolisian menjaga pengamanan operasi pengelolaan kebun dari pihak tertentu.

Sebagaimana diketahui, bentrok antara petani dan aparat di perkebunan plasma PT KDA terjadi Sabtu kemarin. Puluhan petani yang tengah memanen sawit dihadang aparat Brigade Mobil (Brimob) Polda Jambi.

Aparat hendak menahan sawit yang dipanen petani, tetapi petani menolak. Sempat terjadi negosiasi antara sejumlah perwakilan petani dan aparat. Belum lagi proses nego selesai, sekitar seratus petani di sekitar kebun bentrok dengan sekitar 30 personel polisi yang berjaga.

Sejumlah petani melukai dua anggota polisi hingga mengalami luka pada bagian lengan dan punggung. Melihat itu, polisi langsung melepaskan tembakan, dan mengenai enam petani. Para korban tersebut, Nurdin (35), Fahmi (32), Saiful (46), Munawir (30), Suhen (35), dan Agus (27), langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Sarolangun. Sekitar satu jam kemudian, para korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Raden Mattaher Kota Jambi.

Minggu kemarin, para korban penembakan dipindah ke Rumah Sakit Umum Kota Jambi karena RSU Raden Mattaher telah penuh. Sejauh ini, seluruh pasien masih dalam perawatan medis.

Adapun konflik antara petani plasma dan PT KDA bermula ketika terjadi hubungan kemitraan pada tahun 2003. Petani dijanjikan memperoleh kembali lahan mereka lima tahun setelah tanaman sawit tumbuh. Namun, hingga tahun 2009 lalu, konversi lahan tidak juga diberikan perusahaan kepada petani. Hal itu mengakibatkan munculnya aksi protes petani hingga berulang kali. Petani yang memanen sawit di lahan plasma juga kerap ditahan aparat, lalu sawitnya disita.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau