JAKARTA, KOMPAS.com — Pihak kepolisian mengatakan tengah menyelidiki 96 anak-anak yang menjadi korban Sartono, tersangka kasus pencabulan dan perdagangan anak di bawah umur.
"Harus sinkron antara pengakuan tersangka dengan data-data," kata Kepada Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar, Senin (17/1/2011) malam.
Baharudin mengatakan, yang diutamakan pihaknya saat ini adalah penyelidikan ke-96 korban pencabulan dan perdangangan yang dilakukan tersangka Sartono. "Dia baru memberikan 16 nama dan kami belum menemukan mereka. Kami juga kesulitan karena nama-nama korban yang disebutkan hanya nama panggilan," ujarnya.
Terkait sindikat penculikan anak, Baharudin mengatakan, pihaknya masih mendalami, tetapi korban terakhir Sartono dipastikan memang diculik. "Untuk mengungkap siapa saja korbannya, polisi juga bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk mengidentifikasi korban," ujarnya.
Selain itu, Baharudin menuturkan, Sartono juga mengaku menculik anak-anak tersebut untuk kemudian dijual. "Menurut pengakuan dia, motifnya karena uang," katanya.
Dari keterangan tersangka, diketahui ada 18 orang yang telah membeli anak-anak tersebut. "Kami kesulitan karena mereka bertransaksi di stasiun kereta. Sartono juga tidak mengetahui keberadaan para pembeli ini. Untuk identitas sulit juga karena mereka datang dan pergi," ujarnya.
Untuk memudahkan penyelidikan, Sartono telah dipindahkan dari Polres Metro Kepulauan Seribu ke Polda Metro Jaya. Kapolres Metro Pulau Seribu AKBP Hero Hendrianto Bahtiar mengatakan telah berkoordinasi dengan Biro Operasi Polda Metro Jaya terkait penitipan tahanan yang telah dititipkan sejak Jumat (14/1/2011).
Sartono, penjual mainan asal Cirebon, ditangkap di Stasiun Kota beberapa waktu lalu atas laporan seorang pelajar SMP bernama HR. HR melaporkan bahwa dirinya telah dicabuli dan disodomi oleh Sartono. Bahkan HR sempat dijual seharga Rp 25.000-Rp 50.000 untuk melayani lelaki dewasa di stasiun kereta. Kepada polisi, Sartono telah mencabuli 96 anak dengan usia sekitar 14-17 tahun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang