Susu Tak Kunjung Naik

Kompas.com - 19/01/2011, 03:30 WIB

BOYOLALI, KOMPAS - Peternak sapi perah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, serta Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengeluhkan harga pembelian susu murni oleh industri pengolahan susu yang tak kunjung naik sejak 2009. Padahal, harga pakan sapi terus naik sehingga hasil yang diperoleh peternak pun minim.

Harga susu yang diterima peternak Boyolali antara Rp 2.700 dan Rp 3.000 per liter, tergantung kualitas susu. Sementara pembelian dari koperasi oleh industri pengolahan susu (IPS) Rp 3.100-Rp 3.300 per liter. Di sisi lain, harga pakan sapi, seperti katul, naik dari Rp 1.800 menjadi Rp 2.200 per kilogram (kg), sedangkan harga konsentrat dari Rp 1.500 jadi Rp 2.000 per kg.

Haryono (47), peternak dari Desa Sumbung, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Selasa (18/1), menuturkan, dengan harga yang tetap, ia hanya bisa mengharapkan keuntungan dari sapi yang beranak. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan dua sapi yang masih bisa diperah, uang yang diterima tak mencukupi.

Dengan produksi susu dua sapi 18 liter per hari, ia menerima Rp 52.200. Sementara, setiap hari untuk membeli konsentrat dan ketela menghabiskan Rp 38.000. Haryono beruntung memiliki lahan yang ditanami rumput sehingga tidak perlu membeli.

Di Bandung dan Bandung Barat, kenaikan harga pakan ternak dalam sebulan ini pun memicu lonjakan biaya produksi peternak sapi perah hingga 30 persen.

Awaludin, (59), peternak sapi perah di Desa Pasirhalang, Cisarua, Bandung Barat, menuturkan, harga konsentrat sejak akhir tahun lalu naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.800-Rp 2.000 per kg. Adapun harga pakan rumput yang semula Rp 200-Rp 400 menjadi Rp 600-Rp 800 per kg.

”Kini peternak tidak pikir keuntungan. Bisa bertahan saja bagus,” ujar Awaludin.

Asep Dahlan (58), peternak sapi perah di Pangalengan, Kabupaten Bandung, mengaku, tingginya harga pakan membebani peternak sapi perah. Biaya pemeliharaan empat sapi miliknya kini Rp 140.500 per hari. Jika ingin impas, harga beli susu dari koperasi seharusnya Rp 3.500 per liter. Namun, harga susu kini maksimal Rp 3.000 per liter.

Rp 4.000 per liter

Sekretaris Koperasi Unit Desa Cepogo, Boyolali, Sumyani mengemukakan, susu dari peternak hendaknya dihargai Rp 4.000 per liter. Selama ini, peternak mendapat keuntungan terkecil dari mata rantai industri susu di Indonesia.

Sri Kuncoro, Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, mengatakan, industri pengolahan susu memberi harga yang tidak terlalu tinggi untuk susu Jateng karena kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan susu Jatim dan Jawa Barat.

Ketua Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara Lembang, Dedi Setiadi, yang juga Ketua GKSI, mengakui bahwa pihaknya tidak dapat berbuat banyak karena harga beli ke peternak tergantung harga jual susu ke industri pengolahan susu.

General Manager GKSI Jawa Barat Yusup Munawar menyebutkan, berdasarkan data yang dirilis International Farm Comparison Network—lembaga riset persusuan internasional—harga susu di Indonesia terendah di Asia Tenggara. Ia mencontohkan, harga satu liter susu segar di Thailand sekitar Rp 4.370, Vietnam Rp 4.000, Filipina Rp 5.022, dan Malaysia Rp 5.400.(GAL/GRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau