YOGYAKARTA, KOMPAS -
Menurut Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Shubuh, tuberkulosis (TBC) kebal obat muncul karena rendahnya kesadaran penderita minum obat teratur selama enam bulan. Angka
”Semakin tinggi DO, ancaman resistensi semakin besar,” ujar Shubuh pada peresmian Laboratorium TBC di Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, Selasa (18/1/2011). Laboratorium itu hasil kerja sama Kemkes dan Badan untuk Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).
Dekan Fakultas Kedokteran UGM Ali Ghufron Mukti mengatakan, baru ada lima laboratorium di Indonesia yang dilengkapi uji kepekaan bakteri pendeteksi bakteri TBC kebal obat. Laboratorium itu adalah Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya, BBLK Bandung, Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Laboratorium Nehri di Makassar.
Kepala Laboratorium TBC UGM Ning Rintiswati mengatakan, laboratorium itu akan menjadi rujukan pemeriksaan TBC kebal obat di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Indonesia kini di peringkat lima negara dengan kasus TBC terbanyak, turun dari peringkat ketiga. Penderita TBC bisa ditekan dari 240 penderita per 100.000 penduduk menjadi 222 penderita. Target pemerintah yaitu 180 penderita per 100.000 penduduk.