Penyakit

Laboratorium TBC Kebal Obat Masih Terbatas

Kompas.com - 19/01/2011, 03:59 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Penyakit tuberkulosis menempati urutan ketiga penyakit mematikan. Ancaman kematian seiring adanya kasus bakteri TBC kebal obat. Saat ini, jumlah laboratorium yang mampu mendeteksi bakteri TBC kebal obat masih terbatas.

Menurut Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Shubuh, tuberkulosis (TBC) kebal obat muncul karena rendahnya kesadaran penderita minum obat teratur selama enam bulan. Angka drop out (DO) di Indonesia sekitar 5 persen.

”Semakin tinggi DO, ancaman resistensi semakin besar,” ujar Shubuh pada peresmian Laboratorium TBC di Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, Selasa (18/1/2011). Laboratorium itu hasil kerja sama Kemkes dan Badan untuk Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Dekan Fakultas Kedokteran UGM Ali Ghufron Mukti mengatakan, baru ada lima laboratorium di Indonesia yang dilengkapi uji kepekaan bakteri pendeteksi bakteri TBC kebal obat. Laboratorium itu adalah Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya, BBLK Bandung, Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Laboratorium Nehri di Makassar.

Kepala Laboratorium TBC UGM Ning Rintiswati mengatakan, laboratorium itu akan menjadi rujukan pemeriksaan TBC kebal obat di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Indonesia kini di peringkat lima negara dengan kasus TBC terbanyak, turun dari peringkat ketiga. Penderita TBC bisa ditekan dari 240 penderita per 100.000 penduduk menjadi 222 penderita. Target pemerintah yaitu 180 penderita per 100.000 penduduk. (WKM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau