Peremajaan

Garuda Stop Operasional Pesawat Klasik

Kompas.com - 19/01/2011, 08:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Garuda Indonesia berencana menghentikan operasional pesawat klasik jenis Boeing 737-400 dan Boeing 737-300 secara bertahap hingga 2012.

Pesawat tersebut rencananya akan dikembalikan ke pihak lessor dan menjual pesawat klasik yang masih dimilikinya. Pesawat pengganti, Boeing 737-800 next generation, akan tiba pada 2012.

Direktur Operasional PT Garuda Indonesia Ari Sapari mengatakan, peremajaan pesawat sebagai salah satu persiapan untuk menjadi maskapai penerbangan berbintang lima. Saat ini, Garuda masih berbintang empat bersama dengan 26 maskapai lain di dunia. "Kami menargetkan bisa menjadi maskapai bintang lima di 2013," ujar Ari dalam acara dengar pendapat dengan Komisi V DRP RI, Selasa (18/1/2011).

Ari mengatakan, saat ini Garuda masih memiliki 21 unit pesawat klasik jenis Boeing 737-400 dan Boeing 737-300. Dari jumlah itu, 16 unit di antaranya merupakan pesawat sewa dari pihak lessor, sedangkan sisanya pesawat milik Garuda Indonesia.

Dari sisi usia pesawat, menurut Ari, pesawat yang dimiliki Garuda sudah lebih baik. Pada 2009, rata-rata usia pesawat mencapai 10,2 tahun. Sedangkan pada awal 2010 dan awal 2011 ini, usia rata-rata pesawat Garuda mencapai 8,8 tahun. Hingga 2015 nanti, pesawat Garuda diperkirakan tidak akan lebih tua dari pesawat kompetitor di negara lain.

Masih terkendala prasarana

Lanjut Ari, rencana penghentian operasional pesawat itu masih terkendala sarana dan prasarana bandara yang ada di Indonesia. Maklum, menurutnya masih banyak bandara yang belum memiliki landasan pacu yang bisa dipakai untuk pesawat jenis Boeing 737-800 next generation.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan, dana hasil proses IPO Februari nanti yang diperkirakan mencapai Rp 6,97 triliun-Rp 10,23 triliun akan digunakan untuk ekspansi. "Dana IPO ini salah satunya akan kami gunakan untuk peremajaan pesawat," ujar Emir.

Saat ini Garuda mengoperasikan sebanyak 84 pesawat. Sementara pada 2015, mereka menargetkan jumlah pesawat yang dimiliki sudah mencapai 155 pesawat. Garuda menargetkan bisa memiliki 30 pesawat berbadan lebar, 121 pesawat berbadan sempit, dan 4 pesawat kargo. (Sofyan Nur Hidayat/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau