Lalu lintas

Putaran Balik Karet Bakal Dipagari

Kompas.com - 19/01/2011, 10:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk mengantisipasi kemacetan yang muncul saat berlangsungnya pembangunan Jalan Layang Non Tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta berencana memagari putaran balik atau u-turn yang terdapat tepat setelah flyover Karet. Tidak hanya itu, rencananya mulai pekan depan Dinas PU DKI juga akan memberlakukan Jalan Denpasar, Kuningan sebagai jalan alternatif.

Kepala Bidang Jembatan Dinas PU DKI, Novizal, mengatakan, sebetulnya sejak 17 Januari kemarin, pihaknya telah memindahkan u-turn setelah flyover Karet dari jarak 150 meter menjadi 100 meter. Pemindahan dilakukan lantaran terdapat pembangunan tiang pondasi JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang di lokasi u-turn sebelumnya.

“Ya, di lokasi putaran sebelumnya akan dibangun tiang pondasi jalan layang. Untuk itu kami pindahkan lokasi putarannya. Tapi, nyatanya hal itu masih menyebabkan kemacetan yang cukup signifikan,” ujar Novizal, Selasa (18/1/2011).

Dijelaskan Novizal, sebetulnya yang menyebabkan kemacetan kian parah bukan karena pemindahan lokasi u-turn, melainkan banyaknya kendaraan yang memotong langsung ke arah sisi gedung Sampoerna Strategic. Padahal, sesuai aturan, di lokasi itu tidak diperbolehkan langsung berbelok kiri.

Untuk itu, Dinas PU, dikatakan Novizal, berencana memagari putaran baru itu untuk mencegah kendaraan bermotor agar tidak lagi langsung berbelok kiri menuju Jalan Gatot Soebroto. Saat ini, sambung Novizal, pihaknya tengah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan DKI agar sesegera mungkin menurunkan petugas di lapangan untuk menerapkan kebijakan tersebut.

Selain pemagaran u-turn Karet Tengsin, dijelaskan Novizal, pihaknya juga akan kembali membuka sejumlah jalan alternatif untuk mengurai kemacetan di sekitar lokasi proyek pembangunan JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang, khususnya di kawasan Casablanca.

Selain Jalan Gatot Soebroto, Jalan Sultan Agung dan Jalan Imam Bonjol yang telah dijadikan sebagai jalan alternatif, pekan depan Jalan Denpasar juga akan dijadikan sebagai jalan alternatif. Nantinya, Jalan Denpasar akan dibuat tembus menuju Jalan HR Rasuna Said hingga Four Season Hotel.

“Jalan Denpasar terletak di belakang Kedutaan Besar Malaysia. Jalan ini harus dibuka agar terjadi pengalihan arus lalu lintas,” ungkapnya.

Nantinya, pengembang akan membayarkan lahan yang dibuatkan jalan tembus yakni dengan lebar 12 meter dan panjang 100 meter. Proses pembuatan jalan alternatif ini akan dipercepat setelah mendapat kesepakatan dengan pengembang dalam waktu dekat ini.

Koordinator Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, Kompol Indra Jafar mengatakan, ada lima penyebab kemacetan yang terjadi di kawasan Casablanca. Kelimanya yakni, volume kendaraan yang sangat banyak, adanya persimpangan serta penyempitan ruas jalan, adanya proyek jalan layang yang memanfaatkan sebagian bahu jalan, kurangnya petugas di lapangan serta ramainya penyeberang jalan di Mal Ambasador

“Kemacetan di Casablanca merupakan dampak dari pembangunan jalan layang. Karena itu, kami menyarankan pengendara kendaraan bermotor menggunakan jalan alternatif untuk menghindari kemacetan,” kata Indra Jafar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau