Ditepuk, emas melayang

Awas! Hipnotis Kini Incar Anak-anak SD

Kompas.com - 19/01/2011, 12:08 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com Pelaku gendam gentayangan di kawasan Tambak Asri, Surabaya. Selasa (18/1/2011), bocah madrasah ibtidaiyah (setingkat SD) digendam seorang ibu yang menggendong bayi di Jalan Tambak Asri Gang Sedap Malam. Akibat aksi kejahatan itu, bocah delapan tahun bernama Siti Amlika tersebut mengalami trauma.

Pelaku yang berboncengan dengan seorang lelaki, yang diduga suaminya, itu menggasak tiga cincin emas dengan berat total 5,5 gram yang semula melingkar di jari Siti. Dua cincin di jari tangan kiri, sisanya di jari tangan kanan. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00 saat Siti berangkat menuju sekolahnya di Jalan Tambak Asri Gang XXVI.

Masih mengenakan seragam sekolah, korban diantar kedua orangtuanya, Andriyanto (27) dan Siti Khotijah, melaporkan kejadian ini ke Markas Kepolisian Sektor Krembangan. Korban tersadar dari gendam seusai membaca doa bersama di kelasnya sebelum pelajaran dimulai.

"Anak saya sadar setelah selesai berdoa. Dia mengatakan kepada temannya kalau cincinnya diminta oleh ibu-ibu waktu jalan ke sekolah," ujar Siti Khotijah.

Dibantu Rahman, gurunya, korban yang masih duduk di bangku kelas III itu membongkar isi tas untuk mencari cincinnya, tetapi tidak ada. Saat itulah korban teringat dengan dua orang yang menghampirinya di jalan.

Sebenarnya korban berangkat bersama beberapa temannya. Namun, pelaku hanya menghampiri korban. Teman-teman korban menunggu tak jauh dari lokasi kejadian. "Lengan kanan saya ditepuk," ujar korban dengan ekspresi ketakutan.

Kepada korban, pelaku yang diperkirakan berusia 40 tahun itu bertutur bahwa cincin yang dipakai korban harus cepat dilepas karena banyak copet. "Ibu itu bilang, 'Ayo cincinnya disimpan. Nanti dicopet orang'," ujarnya polos.

Korban merasa cincin itu dimasukkan ke dalam tas sekolahnya. Hingga beberapa jam setelah kejadian, korban masih terlihat linglung. Tatapan matanya kosong. Saat ditanya, korban lebih banyak memandang sang ibu. Dia hanya sedikit berbicara karena masih trauma dengan kejadian yang baru dialaminya.

Siti Khotijah mengaku biasa membiarkan sulung dari tiga bersaudara itu berangkat sekolah tanpa diantar. Sang suami, Andriyanto, juga sudah berangkat kerja di kawasan Perak sejak pagi.

Informasi yang diperoleh di lokasi kejadian, aksi gendam juga pernah terjadi beberapa hari lalu. Korbannya adalah empat bocah SD. Namun, para korban ini memilih tidak melaporkan kejadian itu ke polisi.

Kepala Polsek Krembangan Ajun Komisaris Suparto masih menyelidiki kasus ini. Dari keterangan yang dihimpun, polisi menduga pelaku sengaja mengincar anak-anak sekolah. "Pelaku ini profesional dan mereka beraksi sambil menggendong anak," ungkapnya.

Suparto menyayangkan kenapa orangtua korban "membekali" putrinya dengan perhiasan yang berlebihan. Ada tiga cincin yang melingkar di jari-jari korban. "Jelas itu mengundang pelaku kejahatan. Jangan sampai kasih sayang yang diberikan malah membahayakan sang anak," katanya. Dia juga berharap, jika benar ada korban lain sebelumnya, yang bersangkutan segera melapor ke polisi.

Gendam dikenal sebagai kejahatan penipuan dengn metode hipnotis, yang dipercaya menggunakan ilmu hitam atau sihir. Padahal, secara teknis gendam merupakan salah satu atau gabungan dari teknik shock induction dan mind control (telepati). Secara teknis, menghindari kejahatan hipnotis sebenarnya mudah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau