MEDAN, KOMPAS.com - Yayasan Pusaka Indonesia menemukan adanya 10 anak di bawah umur yang menjadi korban perilaku seks menyimpang berupa sodomi sepanjang tahun 2010 di Sumtaera Utara.
"Umumnya mereka masih di bawah umur, yakni di bawah usia 18 tahun," kata Koordinator Litigasi Yayasan Pusaka Indonesia Elisabeth Juniarti di Medan, Rabu (19/1/2011).
Jumlah anak korban yang didapati melalui pantauan media massa itu terjadi di Kota Medan (lima orang), Kabupaten Deli Serdang (empat orang) dan Humbang Hasunduta (satu orang).
Namun, pihaknya belum memberikan perlindungan dan bimbingan karena 10 korban sodomi tersebut tidak membuat laporan ke Yayasan Pusaka Indonesia.
Pihaknya memperkirakan jumlah tersebut mungkin saja lebih banyak terjadi di Sumut dengan pertimbangan masih adanya kasus yang belum terungkap.
Secara umum, kasus perilaku seks menyimpang berupa sodomi yang menimpa anak-anak semakin memprihatinkan di tanah air.
Hal itu disebabkan kasus tersebut bukan hanya terjadi pada anak perempuan saja, tetapi juga terhadap anak laki-laki.
Lebih mengkhawatirkan lagi, anak laki-laki yang menjadi korban sodomi tersebut memiliki kecenderungan menjadi pelaku perbuatan seks menyimpang itu.
Fenomena itu dapat terlihat dari kasus Baekuni alias Babe dan Sartono, dua pelaku sodomi yang menggegerkan dunia hukum nasional yang pernah mengalami kekerasan seksual saat masih anak-anak.
Babe yang melakukan sodomi sebanyak 14 terhadap anak jalanan dan membunuh sebagian korbannya pernah menjadi korban perilaku seks meyimpang itu saat berumur 12 tahun di Lapangan Banteng Jakarta.
Sedangkan Sartono yang korban sodominya diperkirakan mencapai 96 orang juga pernah disodomi pada umur 13 tahun di Stasiun Cirebon.
"Jadi, ada semacam ketagihan, sehingga anak yang menjadi korban akan mengulangi perbuatannya, tidak sebagai korban melainkan menjadi pelaku," katanya.
Anak korban sodomi yang umumnya mengalami trauma berat sehingga harus mendapatkan perhatian yang serius.
Selain itu, anak korban sodomi itu juga memiliki masalah krisis percaya diri sehingga lebih banyak menjadi penyendiri dan pemurung ketika dewasa.
Karena itu, keluarga dan orang-orang dekat dengan korban harus terus memberikan semangat agar anak tersebut bisa melupakan pengalaman pahitnya.
Pengurus Yayasan Pusaka Indonesia OK Syahputra Harianda mengatakan, kasus sosomi terhadap anak di bawah umur itu seperti sebuah fenomena gunung es, karena cukup banyak yang tidak terungkap.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang