Impor dan Anomali Iklim Gejala Krisis

Kompas.com - 19/01/2011, 21:06 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Kondisi pertanian di Indonesia belakangan ini menunjukkan gejala ke arah krisis pangan. Indikasinya ialah impor beras tidak lagi menjadi langkah yang ditabukan dan anomali iklim. Karena itu, dibutuhkan rancang bangun pengelolaan pangan yang baru.

Demikian dikatakan Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat Entang Sastraatmadja di Bandung, Rabu (19/1/2011). "Dalam krisis pangan, impor tidak lagi tabu. Krisis juga dipicu kekhawatiran produksi padi tahun ini turun karena anomali iklim," ujarnya.

Apalagi, lingkungan semakin tidak dikelola dengan baik. Pengaruh kondisi itu terhadap produksi pangan tentu akan muncul. "Efek berantai anomali iklim ialah banjir yang tidak bisa dikendalikan dan tampaknya kian parah saja. Wereng coklat juga menjadi masalah yang mengemuka," ujarnya.

Entang menambahkan, irigasi rusak di Jabar memicu bencana banjir yang belakangan ini melanda area persawahan. Sekitar 40 persen irigasi di Jabar rusak. Sebagian irigasi juga beralih fungsi menjadi kawasan industri atau perumahan.

Konsumsi masyarakat juga menjadi indikasi krisis yang mengkhawatirkan. Entang mencontohkan, konsumsi beras di Jabar sekitar 139 kilogram (kg) per kapita per tahun. Jumlah penduduk yang terus bertambah menyebabkan semakin banyak pangan dikonsumsi.

"Angka konsumsi di Singapura, Vietnam, dan Thailand sudah kurang dari 100 kg. Itu karena penduduknya sudah bisa mengganti beras dengan sumber karbohidrat lain," katanya.

Entang mengatakan, masalah-masalah itu harus diatasi dengan rancang bangun pangan yang baru. Dibutuhkan kerja keras untuk mewujudkan langkah tersebut. Instansi-instasi pemerintah dengan berbagai bidang yang terkait harus berkoordinasi.

"Tidak hanya pertanian, bidang perdagangan, usaha kecil menengah, perdagangan, koperasi, bahkan pekerjaan umum perlu dilibatkan. Misalnya, kalau jalan rusak, distribusi tersendat, harga komoditas pasti langsung melambung. Maka, perlu peran instansi pekerjaan umum," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau