Sea games 2011

Komisi X DPR RI Cemaskan Persiapan

Kompas.com - 20/01/2011, 03:10 WIB

Jakarta, Kompas - Peluncuran kesiapan 300 hari menjelang SEA Games XXVI/2011 di DKI Jakarta dan Sumatera Selatan sudah dilakukan, Sabtu lalu, tetapi Komisi X DPR mengungkapkan kecemasan mereka tentang persiapan pelaksanaan SEA Games, Rabu (19/1).

”Bagaimana tidak cemas? Dua bulan lalu kami melihat lokasi yang bakal menjadi lokasi pertandingan, seperti stadion dan wisma atlet. Namun, yang kami temui hanya ilalang, rawa, belum terlihat pembangunan,” ujar anggota Komisi X DPR, Reni Marlinawati, Rabu, dalam rapat kerja Komisi X dengan Kemenpora dan KONI/KOI.

Menurut Reni, untuk menyiapkan sarana utama dan sarana pendukung, pembangunan setidaknya sudah digarap jauh-jauh hari. ”Sekarang ini realisasi sarana masih jauh,” ujarnya.

Dedi Gumelar, anggota Komisi X, juga mengkritik penyiapan sarana dan mempertanyakan apakah mungkin panitia SEA Games di Sumatera Selatan membangun gedung atau stadion yang dibutuhkan sebagai lokasi pertandingan dalam 4-6 bulan?

Reni melanjutkan, kecemasan lain muncul karena, meski gaung 300 hari menjelang SEA Games sudah diluncurkan, sampai hari ini Kemenpora ataupun panitia penyelenggara (Inasoc) belum melakukan promosi. Tidak ada baliho atau iklan yang mengajak masyarakat menyukseskan SEA Games sebagai pengondisian masyarakat secara psikologis.

”Masyarakat sebaiknya diajak menyukseskan SEA Games. Sekarang tinggal sembilan bulan, tetapi belum ada promosi apa pun,” ujar Reni, anggota dari Fraksi PPP.

Anggota Komisi X lainnya, Utut Adianto, mengkritik tidak efisiennya anggaran yang dipakai Inasoc. ”Sudah ada peluncuran kesiapan 300 hari, mengapa harus ada 200 hari dan 100 hari menjelang SEA Games? Mengapa dana itu tidak dimanfaatkan untuk memantapkan persiapan? Apalagi, dari pemaparan, panitia kekurangan dana,” tutur Utut.

Pada rapat itu Menpora Andi A Mallarangeng menuturkan, untuk penyelenggaraan SEA Games dibutuhkan dana Rp 3,143 triliun. Dana yang sudah diterima sebanyak Rp 1,1 triliun pada 2010 sehingga anggaran yang masih dibutuhkan Rp 2,1 triliun.

Atas kritikan tersebut, Komisi X dan Menpora sepakat membentuk panitia kerja (panja). Panja bertugas mengevaluasi persiapan dan pelaksanaan SEA Games. Khususnya mengevaluasi persiapan infrastruktur, lokasi pertandingan, dan sumber daya manusia atau atlet.

Secara terpisah, Kedutaan Besar Australia di Jakarta mendukung persiapan Indonesia menyelenggarakan SEA Games. ”Bentuk hubungan bilateral Australia-Indonesia tidak saja di bidang militer atau pemerintahan, tetapi juga di bidang olahraga,” ujar Dubes Australia untuk Indonesia Greg Moriarty di sela-sela seminar olahraga bertajuk ”Struktur Pelatihan Olahraga Elite: Perspektif Internasional” di Kedubes Australia, kemarin.

Dukungan itu di antaranya dengan memberi kesempatan atlet Indonesia berlatih di Australia atau mendatangkan pelatih Australia ke Indonesia.

Sekjen Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Arie Ariotedjo mengatakan, melalui kerja sama itu, para pelatih Indonesia bisa belajar dari pengalaman Australia mengembangkan olahraga. ”Salah satunya sport science yang belum banyak diterapkan pelatih kita,” ujar Arie.

Djafar E Djantang, Manajer Tim PB FORKI, mengatakan, seminar yang membagi pengetahuan kekuatan dan kondisi kemarin berguna bagi pelatih Indonesia. ”Beberapa gerakan yang dicontohkan sudah kita latih dalam sesi periodisasi atlet. Namun, di seminar ini kita mendapat contoh-contoh variasi gerakan,” ujar Djafar. (HLN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau