Bursa

Pasar Modal Mudah Digoyang Asing

Kompas.com - 20/01/2011, 09:16 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Bursa Efek Indonesia dinilai terlalu mudah digoyang oleh investor asing. Oleh karena itu, pemerintah diminta segera melakukan stabilisasi pasar modal. Tren indeks harga saham gabungan di BEI yang terus menurun harus segera diantisipasi pemerintah.

Pasalnya, hal itu dapat melemahkan nilai saham beberapa badan usaha milik negara (BUMN) yang akan dilepas ke publik dalam waktu dekat ini.

Pengamat Ekonomi Dradjad Wibowo menegaskan hal itu saat ditemui di Surabaya, Selasa (18/1/2011) malam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga penutupan pasar tanggal 19 Januari 2011 tercatat kembali melemah, yakni 0,88 persen ke 3.517,27.

Menurut Dradjad, aksi spekulasi pasar di BEI antara lain tecermin dari keluarnya dana investor asing hingga Rp 1,63 triliun tanggal 10 Januari 2011. Hal itu mendorong IHSG BEI melemah.

Padahal, awal tahun 2011, PT Bank Mandiri Tbk akan melakukan pelepasan saham baru (rights issue) dan PT Garuda Indonesia akan melakukan penawaran saham perdana kepada publik (IPO).

Kondisi pasar yang melemah dikhawatirkan berimbas pada jumlah dan nilai saham BUMN yang akan dilepas ke publik. ”Sekarang pasar masih agak goyang akibat aksi spekulatif. Pemerintah harus melakukan upaya stabilisasi pasar agar kepercayaan investor domestik menguat,” tutur Dradjad menyarankan.

Pasar yang tidak stabil dikhawatirkan menimbulkan efek panjang berupa arus pembalikan dana yang tidak riil sebagai dampak psikologis, serta berimbas ke nilai tukar mata uang dan inflasi.

Upaya stabilisasi perlu diterapkan dengan mengerahkan seluruh BUMN yang tercatat di bursa ataupun sekuritas. Hingga kini, investor domestik belum memiliki pemimpin pasar (market leader) yang dapat dijadikan acuan sehingga pasar tidak mudah digoyang investor asing.

Menuai kontroversi

Terkait rencana IPO Garuda Indonesia, Dradjad mengingatkan pemerintah agar belajar dari kasus IPO Krakatau Steel yang menuai kontroversi dalam penetapan harga saham perdana.

Selain itu, Kementerian BUMN diminta fokus melepas saham kepada investor dalam negeri dan berkualitas. Saham perdana Garuda Indonesia akan dilepas pada harga Rp 750-Rp 1.100 per saham. Finalisasi harga dicanangkan pada 25 Januari 2011, sedangkan pencatatan di BEI pada 11 Februari 2011.

Pengamat pasar modal Adler Manurung mengatakan, naik turunnya IHSG adalah hal biasa. Dengan demikian, jangan terlalu dikaitkan dengan penawaran perdana saham Garuda.

”Tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Saya dengar pemerintah juga sampai mengumpulkan para analis untuk meminta pendapat. Itu tidak perlu. Seharusnya, bila pasar bullish (naik), ya, pemerintah sosialisasikan hal baik tentang pasar modal,” papar dia.

Saat pasar bullish juga mestinya diterbitkan regulasi yang mampu menahan anjloknya nilai IHSG. ”Bila sekarang pemerintah terlihat panik, itu tidak tepat,” ujar Adler. (LKT/RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau