Mengenang norman edwin

Menjaga Semangat Sang Pionir

Kompas.com - 21/01/2011, 04:24 WIB

”Ingatan terakhir saya mengenai kehadiran almarhum adalah ketika beliau berpamitan beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Aconcagua. Waktu itu sepertinya beliau sudah dapat ’merasakan’ bahwa itu adalah terakhir kalinya kita akan bertemu karena salam perpisahannya sedikit lebih emosional dibandingkan perpisahan sebelumnya. Setelah kepergiannya, saya ingat, saya sempat mendapatkan sebuah kiriman kartu pos dari beliau yang diposkan dari Mendoza (Argentina)”.

Begitulah e-mail balasan Melati, putri tunggal Norman Edwin, pada pertengahan Desember lalu, mencoba mengingat kehadiran dan kontak terakhir dengan sang ayah sebelum akhirnya harus berpisah selamanya.

Ya, Norman Edwin, yang dikenal sebagai pionir petualangan dan pendakian tujuh puncak dunia di Indonesia, ditemukan meninggal hanya beberapa ratus meter dari puncak Aconcagua (6.962 meter di atas permukaan laut), Argentina, pada April 1992, saat putri kebanggaannya, Melati, baru berusia 7 tahun.

Tak heran, jika menyebut nama Aconcagua, puncak tertinggi di Amerika Selatan, seperti tak bisa terlepas dari sosok Norman Edwin yang saat itu meninggalkan inisial NOR sebagai wartawan Kompas. Selain tersohor sebagai petualang alam bebas, Norman juga dikenal akan tulisannya yang menggugah semangat petualangan yang tersebar di berbagai media cetak selain Kompas, seperti Mutiara, Suara Alam, dan Suara Pembaruan.

Norman meninggal bersama Didiek Samsu, rekannya sesama Mapala Universitas Indonesia, saat mencoba menjejakkan kaki di puncak Aconcagua atau puncak kelima dari tujuh yang tertinggi di dunia. Jenazah Norman ditemukan di Canaleta pada ketinggian 6.600 mdpl atau sekitar 300 meter di atas jasad Didiek.

Saat itu, Mapala UI telah berhasil mencapai empat puncak lain, yaitu Carstensz Pyramid di Papua (4.884 mdpl), Kilimanjaro di Tanzania, Afrika (5.892 mdpl), Elbrus di Rusia (5.642 mdpl), dan McKinley di Alaska, AS (6.194 mdpl). Selain Norman dan Didiek, pendakian ke Aconcagua yang dilakukan Mapala UI pada pertengahan Februari 1992 juga diikuti Rudy ”Becak” Nurcahyo, Mohammad Fayez, dan Dian Hapsari.

Berdasarkan kliping berita Kompas, kelima anggota ekspedisi Mapala UI ini telah mendaki pada 12-27 Februari 1992 melalui jalur Gletser Polandia ke arah Plaza Argentina, yang lebih sulit dibandingkan dengan rute normal. Namun, terjadi kecelakaan yang menimpa Fayez sehingga semuanya harus turun kembali.

Selain Fayez yang harus dirawat di rumah sakit, Norman dan Rudy juga harus diamputasi jari-jarinya dan menjalani perawatan karena terkena radang beku (frostbite). Setelah kejadian itu, Fayez dan Dian pulang ke Jakarta lebih dulu, Rudy masih dirawat di rumah sakit di Santiago, Cile, sedangkan Norman dan Didiek merencanakan pendakian ulang Aconcagua melalui rute normal pada 11-21 Maret 1992.

Dalam pendakian ulang ini, musibah yang menggegerkan dunia petualangan Indonesia itu terjadi. Norman dan Didiek dipastikan meninggal di lokasi yang tidak jauh dari puncak Aconcagua setelah jasad mereka ditemukan otoritas setempat.

Didiek ditemukan lebih dulu pada akhir Maret oleh pendaki kawakan Argentina, yaitu Carlos Tenjerina, Miguel Sanchez, dan Raul Benegas, di dalam pondok di Refugio Independencia di ketinggian sekitar 6.400 mdpl. Miguel Sanchez (53), yang ditemui Kompas di Plaza de Mulas setelah 18 tahun lalu musibah itu berselang, mengaku bahwa saat itu ia menemukan tubuh Didiek yang sudah meninggal dalam posisi tertelungkup dengan tangan dan kaki kirinya tertutup salju. Di samping tubuh Didiek terdapat termos plastik yang tutupnya telah rusak.

”Kami kemudian mencari satu lagi temannya di sekitar tempat itu, tetapi tidak ada. Kami hanya bisa bertahan satu jam di sana karena tidak membawa makanan dan kantong tidur,” kata Miguel yang saat ini telah 53 kali mencapai puncak Aconcagua.

Militer

Pencarian Norman akhirnya dilanjutkan pihak militer Argentina. Setelah sempat terhambat badai, jenazah Norman akhirnya ditemukan pada awal April tidak jauh dari tempat jasad Didiek. Begitu mendengar kabar ini, kalangan petualang di Indonesia berduka karena kehilangan dua insan terbaiknya. Pemakaman keduanya pun dihadiri pembesar saat itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan dan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Akbar Tandjung.

Hingga kini, nama Norman dan Didiek sendiri layaknya tokoh wajib bagi generasi masa kini yang hobinya mendaki. Terlebih lagi Norman yang mampu menularkan semangat luar biasa dalam dunia petualangan. Tidak hanya lewat berbagai macam aktivitasnya, mendaki gunung, panjat tebing, mengarungi jeram, mengubek-ubek kolong bumi, dan menyusuri samudra luas, tetapi juga lewat tulisan-tulisannya tentang petualangan.

Dalam e-mail balasannya, Melati juga menambahkan bahwa hingga saat ini dia masih terkagum-kagum akan pengaruh Norman terhadap khalayak pencinta alam di Tanah Air. ”Dalam beberapa kesempatan, saya bertemu atau mendengar kabar tentang orang-orang yang tidak saya kenal dekat atau bahkan tidak saya kenal sama sekali yang kerap mengunjungi makam almarhum pada tanggal ulang tahunnya atau ketika Lebaran. Beberapa ’pengagumnya’ bahkan pernah memberi tahu saya secara langsung bahwa mereka menganggap beliau layaknya seorang ’nabi’ yang menyemangati petualangan-petualangan mereka di alam”.

Melati tidak berlebihan menggambarkan pengaruh Norman dalam dunia petualangan di Tanah Air. Dalam buku Catatan Sahabat Sang Alam yang berisi kumpulan tulisan Norman Edwin, wartawan senior Rudy Badil sekaligus senior Norman di Mapala UI menuturkan, kisah-kisah petualangan dari lelaki kelahiran Sungai Gerong, 19 Januari 1955, ini seperti sudah memiliki ”umat”-nya sendiri.

Kini, meskipun Norman sudah pergi ke puncak yang jauh, semangat yang pernah dikobarkannya coba tetap dijaga oleh generasi selanjutnya, seperti yang dilakukan tim ekspedisi tujuh puncak dunia setelah ketiga pendakinya, Ardeshir Yaftebbi (28), Martin Rimbawan (25), dan Fajri Al Luthfi (25), berhasil mengibarkan Merah Putih di puncak Aconcagua pada 27 Desember 2010, yang kemudian diikuti keberhasilan dua pendaki lainnya, Iwan Irawan (38) dan Nurhuda (23), pada percobaan kedua ke puncak 2 Januari 2011.

Saat melepas tim ekspedisi di Buenos Aires, Duta Besar RI untuk Argentina Kartini Nurmala Syahrir menilai, apa yang telah dirintis Norman Edwin dapat menjadi inspirasi bagi pendaki Indonesia sekarang ini, termasuk tim ekspedisi tujuh puncak dunia. ”Semangat Norman patut menjadi contoh dan diteruskan,” ujar Kartini, yang juga pernah menjabat Ketua Umum Mapala UI pada 1974 atau dua tahun sebelum Norman mulai berkiprah di Mapala UI.

Ketua Harian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Yoppi Rikson Saragih mengakui, semangat Norman dan kawan-kawan yang coba membawa nama Indonesia di puncak tertinggi dunia sejalan dengan ekspedisi saat ini. ”Bagaimanapun, mereka adalah pionir dan kami akan menjaga semangat itu supaya tidak padam,” kata Yoppi. Semua anggota tim mulai mendaki Aconcagua melalui rute normal pada 18 Desember 2010. Pendakian ke Aconcagua ini merupakan puncak keempat setelah sebelumnya mereka berhasil mencapai Carstensz Pyramid, Kilimanjaro, dan Elbrus.

Selain itu, ada juga tim dari Mahitala Universitas Parahyangan yang juga berhasil mengibarkan Merah Putih di puncak Aconcagua pada 9 Januari lalu. Dengan makin banyaknya pendaki dari Indonesia yang mencoba mengibarkan Merah Putih di puncak-puncak tertinggi dunia, ini membuat semangat yang dulu pernah dikobarkan sang pionir terus terjaga.(HARRY SUSILO)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau