KOMPAS.com - Orangtua perlu memberikan teladan kepada anak untuk menunjukkan kepedulian dan semangat berbagi terhadap sesama. Membangun kebiasaan berbagi memerlukan dua rumus kunci, segera memulainya, dan konsisten menjalankan kebiasaan baik ini. Namun problemnya, keinginan untuk berbagi ini terhambat oleh fluktuasi semangat yang naik-turun. Akhirnya, kebiasaan yang bermanfaat baik bagi tumbuh kembang anak ini tak juga dimulai. Seandainya pun sudah dilakukan, namun tak berjalan konsisten.
Sulit memulai kebiasaan baik, solusinya?
Menurut psikolog, Rustika Thamrin SPsi CHt Cl MTLT, memulai kebiasaan baru bisa menjadi kendala bagi banyak orang. Apalagi membangun sebuah kebiasaan yang benar-benar baru dan belum pernah dijalankan sebelumnya. Meski begitu selalu ada solusi di balik setiap masalah. Bagi Anda yang ingin melatih kepekaan dan kepedulian dalam diri anak, segeralah memulai kebiasaan berbagi. Jika masih sulit memulainya, praktekkan solusi berikut ini:
1. Menyadari bahwa perubahan itu kebutuhan. Menjalani kebiasaan baru artinya Anda tengah melakukan perubahan. Tak mudah mengubah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan. Namun dengan meyakini bahwa perubahan itu wajib, Anda bisa mengatasi kendala dalam memulai kebiasaan baru yang diyakini berdampak positif.
2. Meyakini Anda sedang memperkuat diri. Mengubah kebiasaan semakin memperkuat pribadi Anda. Dengan meyakini hal ini, akan mudah bagi Anda memulai kebiasaan baru bersama anak dan pasangan.
3. Temukan role model. Bagaimanapun Anda membutuhkan sosok yang bisa diteladani. Perbanyak mencari informasi mengenai sosok yang menjadi inspirasi dan memotivasi diri untuk membangun kebiasaan berbagi. "Cari berbagai info atau otobiografi role model melalui buku atau internet," kata psikolog yang akrab disapa Tika ini.
4. Berpikir positif. Untuk memulai kebiasaan baik, Anda perlu berpikir positif. Dengan begitu Anda memandang perubahan lebih positif dan semakin memotivasi diri untuk memulai kebiasaan baik ini. Agar terbantu berpikir positif, ikuti berbagai program pemberdayaan diri dan training, kata Tika. Tujuannya untuk lebih mendorong kemauan dari dalam diri.
5. Reformat citra diri dengan memaksimalkan pikiran bawah sadar. Kebanyakan orang hanya menggunakan pikiran sadar yang didasarkan pada logika dan analisa, kata Tika. Sementara 88 persen pikiran bawah sadar menunggu untuk ditemukan. Yakni, sesuatu hal yang membuat Anda nyaman, salah satunya citra diri. Memaksimalkan pikiran bawah sadar membantu Anda mengenali lebih dalam citra diri. Dengan menggali citra diri, Anda akan lebih bersemangat melakukan sesuatu yang bernilai, untuk membuat diri lebih berarti.
"Melakukan sesuatu untuk orang lain sebenarnya bukan hanya mengangkat orang tersebut, namun Anda sedang mengangkat diri sendiri, menjadi lebih berarti," jelas Tika.
Agar konsisten membangun kebiasaan berbagi
Sikap tidak konsisten dalam menjalani kebiasaan baik dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya:
1. Motivasi kurang kuat. Untuk menguatkan motivasi, kata Tika, Anda perlu menyadari motivasi diri dengan menggali hingga akarnya. Jangan hanya mencari motivasi yang di permukaan saja.
2. Ingin yang instan. Tak ada perubahan yang bisa dilakukan dengan instan. Karena ingin cepat berubah total, akhirnya target tidak realistis. Inilah sebabnya kebiasaan baik tak berjalan konsisten. Untuk mengatasinya, mulailah kebiasaan berbagi, misalnya dari skala kecil dan memudahkan Anda.
3. Ketidakteraturan. Agar konsisten menjalani kebiasaan berbagi, Anda perlu melakukannya teratur. Rumus baku agar kebiasaan berjalan konsisten adalah Anda melakukan kebiasaan tersebut selama 21 hari.
4. Tidak mengaitkan dengan hal lain. Bagaimanapun, Anda membutuhkan motivasi di luar diri sendiri. Caranya, gunakan tanda-tanda yang bisa membantu menyemangati Anda, seperti musik atau baju. Pasang musik atau kenakan baju sesuai warna yang Anda sukai, yang membuat Anda lebih bersemangat menjalani kebiasaan. Kaitkan berbagai hal dengan kebiasaan yang sedang Anda bangun agar bisa menjalaninya dengan konsisten.
5. Kurang evaluasi. Amati perkembangan dan kemajuan yang sudah Anda buat dalam membangun kebiasaan berbagi. Evaluasi tetap diperlukan agar konsistensi tetap terjaga.
Tanda bahwa kebiasaan berbagi sudah berjalan konsisten adalah Anda merasa ada yang hilang jika tak membantu orang lain. "Kalau sudah menjadi kebiasaan, jika tidak dilakukan akan terasa ada yang salah, terasa tak enak jika tak melakukannya," jelas Tika.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang