Anak Sekolah di Indonesia Kurang Gizi

Kompas.com - 22/01/2011, 14:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Anak-anak sekolah di Indonesia disinyalir masih mengalami kurang gizi hingga saat ini. Hal ini terjadi karena kurangnya asupan energi dan protein yang seharusnya diperoleh anak-anak sehari-hari melalui makanan yang bergizi seimbang.

"Anak-anak sekolah memang masih mengalami kurang gizi. Hal ini karena kebutuhan gizinya belum seimbang. Selama ini anak-anak lebih banyak konsumsi karbohidrat tapi kurang asupan energi lain dan protein," jelas Dewan Pembina Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi,  Zaenal Abidin, dalam diskusi menyambut Hari Gizi Nasional 2011, Sabtu (22/01/2011), di Jakarta.   

Angka kecukupan gizi anak usia 7 - 9 tahun membutuhkan energi sebesar 1.600-1.800 kilo kalori (Kkal) dan kebutuhan protein sebesar 45 gram. Namun, berdasarkan data 2007 dari pakar gizi Universitas Indonesia, Saptawati Bardosono, sekitar 94,5 persen dari 220 anak yang diteliti di lima SD di wilayah DKI Jakarta, mengkonsumsi makanan dengan kalori di bawah standar.

Ini merupakan data terakhir karena selama ini gizi anak sekolah belum menjadi prioritas utama layanan kesehatan. Kurang gizi ini mengakibatkan daya tangkap anak sekolah berkurang, pertumbuhan fisik tidak optimal cenderung postur tubuh pendek serta anak mudah terkena penyakit.

Menurut Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Tirta Prawita Sari. Kekurangan gizi ini juga diakibatkan keterbatasan ekonomi dan pola asuh orangtua yang sering membiasakan mengkonsumsi makanan dengan gizi tidak seimbang.

"Ada juga karena faktor perekonomian yang rendah. Paling penting juga peran orang tua mengatur makan, terutama Ibu. Ibu harus mengerti pola makan anak. Selama ini masyarakat Indonesia, cenderung tidak peduli terhadap gizi seimbang untuk anak, yang penting makan tapi unsur gizi dan sehat tidak diutamakan. Selain itu, Pemerintah juga belum memprioritaskan mengenai gizi dalam layanan kesehatan masyarakat," ungkap Tirta.

Untuk mewujudkan kembali anak sekolah dengan gizi seimbang ini, lanjut Tirta,  pemerintah diharapkan menjamin ketersediaan pangan yang memadai untuk keluarga dan memasukkan pendidikan gizi ke dalam kurikulum di tingkat sekolah dasar agar anak mempunyai pengetahuan gizi seimbang untuk diwujudkan kehidupannya sehari-hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau