Kebohongan publik

Mendiknas Ikut Kritik Tokoh Lintas Agama

Kompas.com - 22/01/2011, 15:21 WIB

PANGKAL PINANG, KOMPAS.com Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh mengkritik pihak-pihak yang suka membiasakan diri mempersoalkan persoalan-persoalan yang ada, seperti kemiskinan dan lainnya. Oleh sebab itu, ia mengingatkan masyarakat Indonesia agar ikut membantu dan memberikan jalan keluar dari persoalan-persoalan tersebut.

"Misalnya, masalah kemiskinan yang sekarang ini tengah dikurangi oleh pemerintah dengan berbagai program pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Akan tetapi, sekarang ini malah dipersolkan. Itu kan membuat masalah kemiskinan menjadi rumit dan malah menambah persoalan," kata Nuh, saat menjawab pertanyaan seorang guru dalam acara silaturahim Wakil Presiden Boediono dengan perwakilan pelajar dan guru sekolah menengah atas se-Kepulauan Bangka Belitung di SMK Negeri 3 Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (22/1/2011) siang tadi.

Nuh tidak menyinggung siapa yang dimaksud suka mempersoalkan persoalan daripada ikut membantu menyelesaikan masalah itu. Meskipun tidak menyebutkan pihak yang suka mempersoalkan persoalan seperti kemiskinan, dalam catatan Kompas, kelompok yang baru saja disorot ikut mempersoalkan kemiskinan adalah para tokoh lintas agama yang menyatakan pemerintah harus jujur dalam penanganan masalah-masalah bangsa, seperti kemiskinan, penegakan hukum, dan lainnya.

"Kalau membiasakan diri seperti itu, orang-orang yang seperti itu jika ingin meninggal tidak akan tersenyum," ujarnya disambut tawa peserta silaturahim.

Nuh mencontohkan, "Coba Ibu, kan tadi bertanya bagaimana bisa meningkatkan kualitas sebagai guru. Nah, kalau kita mempersoalkan pertanyaan Ibu, tentu akan kita tanyakan lagi 'mengapa Ibu bertanya itu dan mengapa Ibu ada di sini,'" Akan tetapi, "Kalau saya mempersoalkan seperti itu, tentu pertanyaan Ibu yang sederhana dijawabnya itu akan semakin rumit dan menambah masalah. Betul, kan?"

"Padahal, menjawab persoalan yang Ibu pertanyakan, cukup kita jawab, 'Ya pemerintah harus memberikan beasiswa bagi Ibu untuk kuliah lagi,'" katanya.

Tentang kemiskinan, yang dipersoalkan, lanjut Nuh, sebenarnya tidak untuk dipersoalkan, apalagi didiskusikan. "Kalau dipersoalkan dan didiskusikan, tentu malah menambah persoalan," katanya.

"Akan tetapi, jalan keluarnya bagaimana agar jumlah orang miskin itu dikurangi dengan signifikan," katanya seraya menjelaskan salah satu upaya pemerintah mengurangi kemiskinan dengan cara memutus mata rantai kemiskinan, dengan memberikan prioritas 20 persen terhadap siswa miskin yang berprestasi untuk diterima di universitas negeri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau