Perundingan

Sekjen PBB Prihatin Timur Tengah

Kompas.com - 22/01/2011, 21:43 WIB
NEW YORK, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon mengungkapkan keprihatinan atas tidak adanya kemajuan dalam hal perundingan damai  Israel dan Palestina. "Kita harus bergerak di luar kebuntuan dan mengembalikan kedua pihak tersebut ke perundingan demi tercapainya penyelesaian semua masalah status permanen maupun untuk mencapai kesepakatan historis," kata Ban di Markas Besar PBB, New York, Jumat (21/1/2011), saat membuka sidang tahun 2011 komite menyangkut hak-hak rakyat Palestina yang tidak dapat dicabut.      Ia berharap tahun 2011 ini ada upaya-upaya yang lebih keras dari kedua pihak serta pihak ketiga untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah itu.         Ban mencatat bahwa target tanggal-tanggal yang didukung oleh kuartet diplomatik --terdiri atas PBB, Uni Eropa, Rusia dan Amerika Serikat-- untuk mencapai kesepakatan kerangka Palestina-Israel mengenai status akhir serta penyelesaian program-program Otoritas Palestina, tinggal delapan bulan lagi.  "Kita tidak boleh kehilangan lebih banyak waktu lagi," kata Ban.      Ia juga berharap pembicaraan yang akan berlangsung antara kelompok Kuartet dengan mitra-mitra mereka serta Liga Arab di Munchen pada 5 Februari mendatang akan membawa hasil yang diharapkan.      Para pejabat tinggi PBB, termasuk Ban Ki-moon, belakangan ini terus meminta pihak-pihak ketiga yang menjadi mediator berupaya lebih keras membangkitkan kembali perundingan yang buntu antara Palestina-Israel.      Perundingan diharapkan dapat mencapai penyelesaian konsep Dua Negara Palestina-Israel yang hidup berdampingan secara aman dan damai, yaitu dengan mengakhiri pendudukan oleh Israel sejak tahun 1967 di wilayah Palestina serta dengan menyelesaikan semua masalah mendasar.      Israel pada September tahun lalu menolak untuk memperpanjang moratorium (jeda selama 10 bulan) kegiatan pembangunan pemukiman di wilayah Palestina yang diduduki.      Penolakan perpanjangan moratorium itu mendapat reaksi keras dari Palestina hingga Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan menarik diri dari perundingan langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.      Perundingan langsung itu sendiri baru saja dimulai kembali --di bawah mediasi Amerika Serikat-- beberapa minggu sebelumnya setelah terhenti selama dua tahun.      Selain Amerika Serikat, pihak yang selama ini gencar mendorong upaya penyelesaian akhir konflik Palestina-Israel adalah kelompok diplomatik Kuartet Timur Tengah, yang terdiri dari PBB, Uni Eropa, AS dan Rusia.      Pada September lalu, empat negara berkembang terkemuka juga muncul dan bersatu dalam sebuah forum yang diprakarsai Indonesia  untuk menyikapi dan mendukung Palestina dalam proses menuju pembentukan negara Palestina yang berdaulat.       Indonesia, seperti yang kerap ditegaskan Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Duta Besar Hasan Kleib, dalam berbagai sidang di PBB, menganggap bahwa kegiatan pembangunan permukiman oleh Israel di wilayah Palestina adalah salah satu bantu sandungan utama terhadap penyelesaian konflik Palestina-Israel maupun perdamaian di Timur Tengah.      Oleh karena itu, selain menyesalkan tindakan Israel yang pada September lalu tidak memperpanjang moratorium, Indonesia juga  meminta Israel untuk seterusnya membongkar permukiman-permukiman yang telah mereka bangun di wilayah Palestina yang diduduki.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau