Reformasi

Tanda Revolusi Tunisia Menjalar ke Yaman

Kompas.com - 24/01/2011, 03:35 WIB

SANAA, KOMPAS.com — Sekitar 200 wartawan berpawai di Sanaa, Minggu (23/1/2011), untuk menuntut pembebasan aktivis kebebasan pers Tawakel Karman dan tahanan lain.

Kelompok wartawan itu bergerak dari kantor serikat mereka menuju kantor kejaksaan untuk menuntut pembebasan para tahanan, tetapi kemudian pergi tanpa memperoleh keterangan.

Karman, yang diketahui terlibat protes pro-revolusi Tunisia yang juga mendengarkan seruan-seruan perubahan politik di Yaman, memimpin kelompok hak asasi Wartawati Tanpa Borgol. Kini, spirit revolusi Tunisia pun menjalar ke Yaman.

Polisi Yaman menangkap Karman di sebuah jalan utama ketika wanita itu pulang bersama suaminya pada Sabtu malam, kata beberapa aktivis hak asasi yang menolak disebutkan namanya.

Alasan penangkapannya tidak jelas, tetapi ia ditahan di sebuah penjara utama di Sanaa, kata keluarganya. Seorang pejabat keamanan mengatakan, penangkapan itu dilakukan setelah ada surat perintah penangkapan dari pengadilan, tetapi tidak jelas alasannya.

Karman, anggota komite pusat partai oposisi Islamis Al-Islah, turut berdemonstrasi di Sanaa untuk mendukung pemberontakan rakyat di Tunisia yang akhirnya menjatuhkan Presiden Zine El Abidine Ben Ali setelah berkuasa selama 23 tahun.

Sementara itu, Minggu, bentrokan meletus di luar Universitas Sanaa ketika pasukan keamanan berusaha membubarkan puluhan mahasiswa dan aktivis yang menyerukan perubahan politik, kata beberapa saksi. Protes itu akhirnya dibubarkan.

Sabtu, ratusan mahasiswa Universitas Sanaa mengadakan pawai di kampus dan beberapa orang menyerukan pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh, sedangkan yang lain memintanya tetap bertugas. Saleh, yang telah berkuasa selama puluhan tahun, terpilih lagi pada September 2006 untuk mandat tujuh tahun.

Yaman hingga kini juga masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan. Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990.

Namun, banyak pihak di wilayah selatan, tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.

Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mendesak rakyat Yaman agar tidak mendengarkan seruan-seruan pemisahan diri, yang katanya sama dengan pengkhianatan.

Yaman adalah negara leluhur pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, dan menjadi pangkalan Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) dan tempat peluncuran bagi serangan-serangan dengan sasaran AS.

Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu akan gagal dan Al Qaeda memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya menjadi tempat peluncuran untuk serangan-serangan lebih lanjut.

Yaman menjadi sorotan dunia ketika sayap regional Al Qaeda, AQAP, menyatakan mendalangi serangan bom gagal terhadap pesawat penumpang AS pada Hari Natal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau