Makanan Organik Tak Selalu Lebih Bergizi

Kompas.com - 25/01/2011, 08:46 WIB

KOMPAS.com - Bahan pangan organik belakangan ini banyak diperbincangkan. Sebagian orang berminat beralih ke sayuran atau buah organik, agar bisa lebih sehat. Sayangnya, niat untuk mengonsumsi bahan organik tidak disertai dengan pemahaman yang benar.

Apa sebenarnya makanan organik? Bahan pangan disebut organik apabila ditanam dan dipelihara tanpa menggunakan bahan-bahan kimiawi, seperti pupuk, pestisida, pembunuh hama tanaman, dan obat-obatan. Para petani atau peternak organik hanya menggunakan pembunuh hama alami, seperti minyak tanaman, sabun, bakteri pemakan jamur, atau serangga pemakan hama. Pupuk yang digunakan juga berupa kotoran hewan atau kompos. Pada hewan ternak, makanan yang diberi yang juga bersifat organik, dan tidak ada pemberian antibiotik maupun hormon untuk mempercepat pertumbuhannya.

Apa dengan demikian makanan organik jadi lebih aman untuk dikonsumsi? Pada bahan makanan non-organik, sisa pestisida memang masih menempel pada saat kita membelinya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pestisida dalam jumlah besar dapat membahayakan kesehatan. Namun, belum ada bukti bahwa sisa pestisida pada bahan pangan non-organik cukup berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, belum ada cukup bukti yang menyatakan makanan organik lebih bergizi dibanding non-organik. Bagi anak-anak, pemberian makanan organik lebih didasari pertimbangan bahwa mereka makan lebih banyak dan mungkin lebih sensitif terhadap pestisida. Memberikan susu atau makanan bayi organik memang akan memberi rasa tenang bagi orangtua.

Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, penanaman dan peredaran bahan makanan organik telah diatur secara jelas. Tidak semua orang bisa dengan mudah menempelkan label organik di produk buatannya. Untuk mendapat izin penggunaan label organik, petugas pemerintah akan mengawasi cara produksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sayangnya, ini belum ada di negara kita.

Untuk mengarahkan agar konsumen lebih bijak dalam mengonsumsi makanan organik maupun makanan non-organik, Environmental Working Group (badan nirlaba yang menganalisis hasil pemeriksaan pestisida di Amerika Serikat), melansir daftar penting berisi 12 jenis sayur dan buah yang paling tinggi serta paling rendah kandungan pestisidanya. Jadikan sebagai panduan Anda!

Mana yang sebaiknya organik?
Kandungan pestisida paling tinggi:
Persik (peach), apel, paprika, seledri, nectarine (sejenis persik), strawberry, ceri, sayur kale (sayuran seperti sawi), selada lettuce, anggur, pir, wortel.

Kandungan pestisida paling rendah:
Pepaya, brokoli, kubis, pisang, buah kiwi, kacang polong (beku), asparagus, mangga, nenas, jagung manis (beku), alpukat, bawang bombay.

Narasumber: Dr Johanes C. Chandrawinata, MND, SpGK, dokter spesialis gizi klinis dari Rumah Sakit Melinda, Bandung

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau