JEMBER, KOMPAS.com — Buntut pemblokiran dana tunjangan profesi pendidik sepihak oleh pihak Dinas Pendidikan Jember, Jawa Timur, guru-guru bersertifikat berencana memindahkan seluruh dana TPP mereka ke rekening di luar BNI. Para guru tersebut mengaku geram.
Ketua Forum Komunikasi Guru Bersertifikasi Wiwik Murniati menyatakan, awalnya guru penerima tunjangan profesi pendidik (TPP) mengira uang mereka di ATM raib. Namun, setelah diklarifikasi, ternyata dana itu diblokir dan tetap ada di rekening.
"Namun, perbuatan itu membuat guru-guru resah. Ini seperti mencuri uang di dompet seseorang lalu ketahuan kemudian dikembalikan lagi. Sudah mirip pembobolan,” ujar Wiwik, Selasa (25/1/2011).
Setelah berkoordinasi dengan sesama guru bersertifikat, disepakati dana TPP akan dipindah ke rekening bank lain. Ribuan guru, lanjut Wiwik, dipastikan akan menarik dananya dari rekening BNI.
"Daripada uang kami hilang, lebih baik diambil semua," kata Wiwik.
Wiwik menjelaskan, kasus ini sebagai puncak dari kegeraman guru. Pasalnya, sebelumnya dana TPP juga pernah disunat sekitar Rp 500.000. Saat penjaringan guru bersertifikat pada 2009, para guru juga dimintai uang berkisar Rp 1,5 juta-Rp 3 juta. Pada 2010, pungutan juga terjadi, yakni berkisar Rp 3 juta-Rp 5 juta.
“Nah, sekarang kok ditambah,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Jember Ahmad Sudiyono menyatakan, pemblokiran itu sudah sesuai aturan, yakni guru penerima TPP wajib menyisihkan dana minimal 10 persen untuk peningkatan mutu dan kualitas pendidik. Ketentuan itu tertuang dalam Inpres 1/2010 dan ditindaklanjuti oleh Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan.
Ahmad berdalih, saat pencairan TPP pertama, guru langsung mengambil dana TPP dan tidak menyisakan dana lagi. Padahal, diperlukan dana Rp 3 juta untuk pelatihan peningkatan mutu pendidik yang akan digelar bulan depan. Karena para guru sudah mengambil seluruh dana, ia berinisiatif meminta pihak bank memblokir uang Rp 3 juta.
Sebelumnya, diberitakan di Kompas.com, Senin (24/1/2011), ratusan guru penerima TPP dan insentif guru panik. Sebagian tabungan sebesar Rp 3 juta diblokir BNI atas permintaan Dinas Pendidikan Jember. Pemblokiran dilakukan tanpa pemberitahuan ke pemilik rekening.
Pemblokiran diketahui para guru ketika hendak mengambil tabungan melalui anjungan tunai mandiri (ATM). Saldo tabungan tidak muncul seluruhnya. Kebijakan ini membuat para guru yang menyimpan uang di BNI resah.
Beredar informasi bahwa ada uang tabungan hilang. Hal ini dinyatakan sejumlah guru yang ditemui di halaman kantor BNI, Jalan PB Sudirman, Jember, Senin (24/1/2011). ”Kami kaget ketika melihat saldo di ATM BNI hanya tertulis Rp 14 juta. Padahal, perkiraan semula sebesar Rp 17 juta,” kata Winarti, seorang guru di Jember. (UNI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang