PEKANBARU, KOMPAS.com - Akibat kenaikan harga sembako sejak awal tahun ini, membuat pedagang nasi bungkus di Pekanbaru menaikkan harga nasi bungkus dari sebelumnya Rp 8 ribu menjadi Rp 10 ribu.
"Kenaikan tersebut terpaksa dilakukan, untuk mengimbangi kenaikan harga sembako," ujar Yeti (35), pedagang nasi bungkus di Jalan HR Soebrantas Pekanbaru, Rabu (26/1/2011).
Dia mencontohkan beras yang biasanya kami beli Rp 7 ribu per kilogramnya, sekarang sudah mencapai Rp 11 ribu per kilogramnya.
Begitu juga dengan kenaikan harga cabai merah, lanjutnya, yang sangat berpengaruh terhadap harga nasi bungkus.
Sebelumnya harga cabai merah dia beli dengan harga Rp 45 ribu per kilogram, namun sekarang sudah melonjak menjadi Rp 55 ribu per kilogramnya.
"Itu masih mending, ketimbang sebelumnya yang mencapai Rp 80 ribu perkilogram," katanya.
Untuk mengantisipasinya, ia mengakali dengan menggunakan cabai merah kering yang dibeli dengan harga Rp 20 ribu per kilogram.
Cabai kering tersebut ia rendam, selama dua hari baru kemudian digunakan sebagai bahan masakan.
"Kalau tidak begitu, akan semakin kesulitan untuk mendapatkan keuntungan. Dengan harga saat ini saja, paling besar untung yang didapat hanya Rp 1.000 per bungkus," katanya.
Kenaikan harga nasi bungkus ini dinilai sangat memberatkan bagi warga Pekanbaru.
Terutama yang berstatus mahasiswa. Seperti yang diungkapkan Ridwan (19), mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Riau, yang mengeluhkan kenaikan nasi bungkus tersebut.
Beberapa waktu lalu, masih ada yang menjual nasi bungkus dengan harga Rp 7 ribu.
"Tetapi sekarang rata-rata harganya Rp 10 ribu. Ini sangat memberatkan, apalagi uang kiriman setiap bulannya tidak mengalami kenaikan," ujar Mahasiswa yang berasal dari Indragiri Hulu ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang