JAKARTA, KOMPAS.com — Saat ini di Jakarta hampir tidak ada lagi ruas jalan yang bebas dari kemacetan. Kondisi jalur alternatif dari alternatif bahkan hampir sama, padat dan nyaris tidak bergerak. Para pengguna jalan pun harus pandai menghitung waktu perjalanan agar rezeki tidak ”tercecer” di jalan.
Di sepanjang Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Rabu (26/1/2011), pengguna jalan disergap beberapa hambatan terkait proyek pengerjaan jalan layang Blok M-Antasari. Laju kendaraan rata-rata hanya 5-10 kilometer per jam.
Hambatan itu dimulai dari perempatan di dekat Markas Besar Polri arah Terminal Blok M. Alat berat dan pagar-pagar bertuliskan proyek jalan layang non-tol mengokupasi setiap satu lajur dari dua lajur jalan yang ada.
Padahal, lokasi alat berat hanya mengambil ruang 10 meter x 10 meter, tapi keberadaannya menjadi penyumbat arus lalu lintas. Kondisi serupa terlihat di mulut Jalan Pangeran Antasari dan di pertigaan Kemang.
Ruas jalan di depan pertigaan Kemang, khususnya jalur dari arah Cipete menuju Blok M, terpaksa ditutup untuk keperluan proyek jalan layang. Arus lalu lintas dari arah Cipete dibelokkan ke Jalan Brawijaya sebelum akhirnya masuk kembali ke Jalan Pangeran Antasari di depan Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.
”Di sini paling macet pukul 07.00-09.00. Sorenya, pukul 17.00-19.00, hampir tidak bergerak kendaraan yang lewat sini,” kata Bandi, pengelola bengkel di Jalan Pangeran Antasari. (COK/NEL/FRO)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang