Pendidikan

Malang Nian Nasib Sekolah-sekolah Ini

Kompas.com - 27/01/2011, 10:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekolah memiliki tugas berat mendidik dan memberikan pengetahuan kepada para penerus bangsa. Di tempat inilah akhlak dan pengetahuan dasar seseorang dibentuk. Namun, sungguh memprihatinkan manakala di sana-sini sarana sekolah masih saja jauh dari harapan.

Dinding terkelupas, langit-langit bocor, pintu reyot, hingga atap roboh mungkin hanya ada di bayangan sekolah di daerah terpencil. Namun, di kota metropolitan seperti Jakarta nyatanya tak jauh berbeda.

Pada saat APBD tahun 2011 provinsi ini meningkat menjadi Rp 28,7 miliar, Jakarta masih tak mampu mendanai 346 gedung sekolah yang rusak. Sebagai contoh di SDN Malaka Jaya 06, dua kelas tak lagi layak dipakai karena langit-langit kelas nyaris roboh.

Bahkan untuk menopang agar tak ambles, langit-langit kelas di sekolah yang terletak di Jakarta Timur tersebut terpaksa disangga dengan sebuah tongkat kayu panjang. Pihak sekolah pun tak mau ambil risiko dan memutuskan untuk memindahkan kegiatan belajar mengajar ke sebuah mushala.

"Sudah satu semester ini kami pindahkan ke mushala karena takut membahayakan keselamatan anak-anak," ujarnya.

Selain dua kelas yang atapnya nyaris roboh, genteng dua gedung di sekolah itu pun tampak miring dan banyak bagian yang hilang. Untuk biaya perbaikan, pihak sekolah mengaku menunggu janji suku dinas yang akan memperbaiki sekolah tersebut pada Juni-Juli 2011.

"Kami tunggu janji itu, soalnya dari tahun-tahun sebelumnya kami ajukan usulan untuk perbaikan nyatanya tidak pernah ada," ujar guru SDN Malaka Jaya 06, Toto Edi, Rabu (26/1/2011) di Jakarta.

Lain lagi cerita SMPN 198 Duren Sawit. Hampir di tiap kelas bangunan lama sekolah itu ditemui langit-langit yang mulai mengelupas. Di salah satu kelas bahkan ditemukan pintu yang sudah dimakan umur, reyot, dan posisinya pun miring.

Di SDN 14 Pondok Bambu, Kepala Sekolah Dedi Priatna mengaku prihatin dengan kondisi sekolahnya karena kusen dan lantai banyak yang rusak. "Dari tahun 1975 kami tidak dapat dana rehab, baik ringan maupun total," kata Dedi.

Kondisi kerusakan parah juga dialami SMPN 273 Kampung Bali. Dua laboratoriumnya roboh dan tak dapat lagi dipakai.

"Waktu hujan itu tiba-tiba saja ambruk. Padahal anak-anak baru saja selesai belajar di lab, syukurnya tidak ada yang kena," ungkap salah seorang guru SMPN 273 Kampung Bali, Rabu (26/1/2011), saat dijumpai di sekolah tersebut.

Dua ruangan yang ambruk dan kini beratapkan langit tersebut adalah laboratorium pangan dan laboratorium mesin. Laboratorium pangan justru disulap menjadi tempat parkir motor, sementara laboratorium mesin sama sekali tak terpakai dan dibiarkan telantar dengan kayu-kayu yang jatuh di dalamnya.

Berdasarkan data Pemprov DKI, jumlah gedung sekolah yang belum diperbaiki sampai tahun 2011 mencapai 346 buah. Wakil Gubernur DKI Prijanto menjanjikan, keempat sekolah tersebut mendapatkan dana rehabilitasi yang akan diperjuangkan pemerintah dalam usulan perubahan APBD tahun 2011.

"Kalau lihat ini, dan masih berempati, tidak ada alasan untuk tidak membuat perubahan dan menambah dana rehabilitasi dalam APBD," ujar Prijanto saat berkunjung keempat lokasi sekolah itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau