Pertamina Didorong Kelola Blok Natuna

Kompas.com - 27/01/2011, 17:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah didesak agar segera memberi mandat kepada PT Pertamina (Persero) untuk mengelola dan menjadi operator blok minyak dan gas bumi Natuna Timur. Hal ini bertujuan menjaga kedaulatan negara dan memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat.

Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies, Marwan Batubara, dalam diskusi bertema Blok Natuna Timur dan Kedaulatan Negara, Kamis (27/1/2011), di Jakarta. Adapun beberapa pembicara lain adalah, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, anggota DPR RI Chandra Tirta Wijaya, dan pakar geologi Andang Bachtiar.

Sebelumnya PT Pertamina telah menandatangani nota kesepakatan awal tentang rencana pengembangan blok migas Natuna D Alpha, yang telah berganti nama menjadi Natuna Timur, dengan ExxonMobil, Petronas dan Total Indonesie pada Desember lalu. Namun belum ditentukan siapa operator atau pihak yang memimpin konsorsium dalam pengelolaan blok itu.

Blok Natuna Timur merupakan blok minyak dan gas bumi yang diperkirakan menyimpan cadangan minyak sekitar 500 juta barel. Adapun total potensi gas diperkirakan mencapai 222 triliun kaki kubik atau TCF. Sedangkan potensi gas yang recoverable 46 TCF atau setara dengan 8,383 miliar barel minyak.

Marwan mempertanyakan belum adanya kepastian posisi Pertamina sebagai operator di Blok Natuna Timur padahal perseroan itu telah menyatakan kesanggupannya memimpin eksploitasi Blok Natuna. "Sebagai sumber daya migas Indonesia berkapasitas besar, maka sangat strategis jika Natuna dikelola secara dominan oleh negara melalui Pertamina. Karena itu, pemerintah harus segera menetapkan Pertamina sebagai operator," kata dia.

Pemerintah juga diharapkan segera menetapkan paket pengelolaan Natuna yang menyeluruh, terpadu dan visioner. Seluruh sumber daya nasional baik finansial maupun sumber daya manusia agar dikerahkan untuk menggarap proyek Natuna. Adapun hasil produksi gas Natuna diharapkan dapat memenuhi kebutuhan energi domestik jangka panjang, minimal selama 60 tahun ke depan.

Chandra Tirta menambahkan, pengelolaan blok Natuna harus berlandaskan kedaulatan dan keamanan energi. Jadi, alokasi gas dari blok itu terutama untuk memenuhi kebutuhan domestik. "Pemerintah harus menerbitkan peraturan pemerintah pengelolaan Natuna secara menyeluruh dan integratif dan menetapkan Natuna sebagai cadangan Pertamina," ujarnya menegaskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau