Organisasi masyarakat

Nasdem Takkan Jadi Partai Politik

Kompas.com - 28/01/2011, 03:41 WIB

Jakarta, Kompas - Nasional Demokrat tidak akan mendeklarasikan menjadi partai politik seperti dugaan banyak pihak selama ini. Untuk itu, Nasdem tidak akan mendaftarkan diri sebagai partai politik ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk menjadi peserta pemilu pada tahun 2014.

”Nasdem masih merupakan organisasi masyarakat (ormas) yang memperjuangkan gerakan moral,” kata Sekretaris Jenderal Nasional Demokrat (Nasdem) Syamsul Mu’arif dalam jumpa pers terkait rencana Rapat Pimpinan Nasional Nasdem di Jakarta, Kamis (27/1). Sebagai ormas, Nasdem terus melakukan konsolidasi secara internal.

Ketua Komite Pelaksana (OC) Rapimnas dan HUT Nasdem Enggartiasto Lukita mengatakan, Rapimnas I Nasdem dan HUT ke-1 Nasdem direncanakan digelar tanggal 30 Januari-1 Februari 2011 di Jakarta Convention Centre. Rapimnas Nasdem akan diikuti 2.542 peserta. ”Itu belum termasuk pengurus dan peserta lain yang minta diikutkan,” katanya.

Rapimnas itu direncanakan dibuka Ketua Umum Nasdem Surya Paloh. Rapimnas juga akan diisi dengan seminar dan perayaan ulang tahun Nasdem. Dalam usia setahun, Nasdem sudah memiliki anggota sekitar satu juta anggota. Penyerahan kartu anggota yang kesatu juta itu akan dilakukan pada acara Rapimnas dan HUT Nasdem.

Menurut Syamsul Mu’arif, Rapimnas Nasdem rencananya akan melahirkan atau menawarkan konsep restorasi Indonesia. Dalam konsep restorasi itu, seluruh komponen bangsa Indonesia diajak kembali pada semangat dasar atau asli konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ”Perubahan konstitusi perlu dikembalikan ke semangat orisinal,” kata Syamsul.

Syamsul mencontohkan, dalam bidang ekonomi, sistem ekonomi perlu dikembalikan dari pola-pola neoliberal kepada sistem ekonomi yang sesuai dengan semangat Pasal 33 UUD 1945. Konsep ekonomi sesuai semangat konstitusi itu, termasuk masalah-masalah lain, akan dipaparkan dalam seminar Rapimnas Nasdem dan dibahas dalam sidang-sidang komisi Rapimnas Nasdem.

Hasil pembahasan konsep restorasi Indonesia juga akan disampaikan kepada publik, termasuk kepada pemerintah. Dengan konsep itu, diharapkan seluruh komponen bangsa memiliki arah yang jelas dalam menangani berbagai persoalan bangsa. ”Kita (Indonesia) mau berubah dalam reformasi. Namun, kita tidak punya konsep perubahan seperti apa,” katanya.

(FER)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau