Tampilnya petenis kelahiran Wuhan, China, itu di final Australia Terbuka merupakan buah dari kedigdayaannya menggulung petenis nomor satu dunia Caroline Wozniacki dari Denmark, 3-6, 7-5, 6-3, Kamis (27/1).
Partai Li Na melawan mantan petenis nomor satu asal Belgia, Kim Clijsters, di final tunggal putri Australia Terbuka adalah ulangan dari turnamen pemanasan sebelum Australia Terbuka, yaitu Sydney International, awal Januari lalu. Saat itu Li Na bisa menundukkan Clijsters yang
Dilatih oleh suaminya sendiri, Jiang Shan, yang menikahinya pada Januari 2006, Li Na yang kini berperingkat kesembilan sangat berpeluang menjadi pemain Asia pertama yang menjadi juara di sebuah kejuaraan utama.
Pukulan forehand-nya yang kini semakin keras dan tajam menukik meminta banyak korban, termasuk Clijsters. Li Na pun terus menyempurnakan pukulan
Sejak memulai karier profesionalnya dengan tampil di kejuaraan ITF, Beijing, tahun 1996, penampilan Li Na cenderung terus turun naik karena terserang sakit atau cedera. Pada tahun 1997-1998, misalnya, dia tidak turun sama sekali di turnamen-turnamen resmi. Akan tetapi, tahun 1999 dia langsung menjuarai tiga gelar tunggal dan delapan gelar ganda di sirkuit-sirkuit ITF.
Kiprahnya di kejuaraan WTA dimulai tahun 2000, dengan memenangi satu gelar di nomor ganda, sedangkan di nomor tunggal dia belum bisa berprestasi.
”Saya telah mengikuti tur beberapa lama serta bermain di pertandingan-pertandingan besar dan tidak selalu memenanginya. Namun, meskipun saya kalah, terkadang kekalahan itu benar-benar mengajari saya banyak hal. Itu jelas telah membantu saya sekarang pada saat saya lebih berumur,” ujarnya.
Pada kejuaraan Australia Terbuka tahun lalu, Li Na juga mampu mencapai semifinal, tetapi kemudian kalah dari ratu tenis AS, Serena Williams. Kekalahan itu rupanya menjadi pendorong baru petenis China tersebut untuk berlatih lebih keras sehingga kini dia menjadi petenis yang tidak takut melawan siapa pun. Bahkan, sebaliknya, ia mulai ditakuti para pesaing- pesaingnya, terutama mereka yang pernah dikalahkannya.
Sebagai anak tunggal pasangan Sheng Peng dan Yan Ping, Li Na memang berasal dari keluarga yang berkecukupan sehingga bisa mengenal tenis sejak usia sembilan tahun. Sebelum dikenalkan dengan tenis, Li Na lebih sering bermain bulu tangkis.
Akan tetapi, dia memang terbiasa berlatih di lapangan keras sehingga lebih menyukai bermain di lapangan keras ketimbang tipe-tipe lapangan lainnya.
Penggemar warna hitam ini sejak lama menjadikan juara di kejuaraan utama sebagai target tertingginya. Karena itu, selain dilatih suaminya, Li Na juga memiliki pelatih khusus stamina, Richard Sutton.
Li Na juga memandang penting untuk meneruskan pendidikan sehingga saat ini berstatus sebagai mahasiswi Huazhong Institute of Science and Technology.
Sepanjang karier profesionalnya, Li Na yang kelahiran 26 Februari 1982 mengoleksi empat gelar tunggal kejuaraan tur WTA dan dua gelar kejuaraan WTA di nomor ganda. Peringkat tertingginya adalah kesembilan, yang diraih pada 23 Agustus 2010, tetapi saat mengikuti Australia Terbuka dia berada di peringkat ke-11. Meski demikian, dengan kemampuannya mencapai semifinal Australia Terbuka, peringkat Li Na kembali masuk ke jajaran sepuluh besar.
Pada tahun 2011 ini, Li Na memperlihatkan hasil persiapannya yang lebih baik, dengan langsung menjuarai Sydney International, yang merupakan turnamen pemanasan menuju Australia Terbuka.
Ketika ditanya soal apa yang memotivasinya hingga bisa tampil sangat bersemangat, Li Na terus terang mengatakan, hadiah uangnya.
”Saya sebenarnya tidak tidur enak
Meski menyebut hadiah uang sebagai pemotivasi semangatnya, Li Na bukan petenis yang terbilang gila harta. Ketika menjuarai turnamen di Madrid tahun 2010, Li Na malah mendonasikan semua uang hadiahnya itu kepada sebuah yayasan untuk mengatasi kemiskinan di China, khususnya untuk membantu para korban gempa bumi di Yushu, China.
Petenis bertinggi badan 172 sentimeter dengan berat sekitar 65 kilogram ini sepanjang karier profesionalnya memiliki rekor 362 kali menang dan 133 kali kalah. Merangkak dari peringkat ke-363 tahun 1999, Li Na baru menembus 100 besar dunia tahun 2004 dengan menempati peringkat ke-80. Hal itu menunjukkan ketekunan dan sifat pantang menyerah petenis China ini untuk terus menjadi yang terbaik di tenis profesional.
Jika sekarang dia mampu menembus final Australia Terbuka, hal itu mengindikasikan Li Na tengah berada pada penampilan terbaiknya, sekaligus buah
Sifat pantang menyerah itu diperlihatkannya saat melawan Clijsters di final Sydney International. Meski ketinggalan 0-5 pada set pertama, Li Na kemudian memperbaiki permainannya hingga berhasil menyamakan 5-5, bahkan kemudian unggul atas lawannya.
”Saya sangat gembira bisa menjadi orang China pertama yang bertarung di final. Saya selalu menjadi yang pertama,” paparnya penuh kebanggaan.
Li Na memang layak berbangga diri karena mencetak sejarah baru bagi tenis Asia.