3 Masalah Utama Rambut Wanita Indonesia

Kompas.com - 28/01/2011, 11:08 WIB

KOMPAS.com - Empat belas tahun berkarya di seputar rambut membuat Hisato Suzuki memahami betul masalah penataan rambut. Lelaki yang menyebut dirinya sebagai "dokter rambut" ini sudah sekitar 6 bulan ini mengepalai salon Shunji Matsuo Hair Studio by Hisato di Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan dan Desember lalu baru membuka One Piece Hair Studio by Hisato di Sogo Central Park, Jakarta Barat. Dari kedua salon tersebut, ia memerhatikan apa masalah utama penataan rambut di Indonesia.

Kepada Kompas Female, usai pertemuan dengan media di gerai One Piece Hair Studio, Hisato mengungkapkan bahwa ada beberapa masalah terutama yang ia temui pada klien-kliennya.

"Kulit kepala berminyak dan penipisan rambut adalah dua masalah yang sering saya temukan di masyarakat Indonesia," jelasnya. Kulit kepala berminyak bisa jadi karena kondisi iklim di Indonesia yang cukup lembab dan panas. Namun, satu hal yang ia terus temui di masyarakat Indonesia adalah kesukaan pemijatan kepala menggunakan obat khusus atau biasa dikenal dengan creambath. "Yang jadi masalah, jika kulit kepala sudah berminyak, lalu ditambah dengan krim yang bahan utamanya adalah minyak, maka kulit kepala akan makin berminyak. Ditambah lagi pijatan di kulit kepala yang merangsang diproduksinya minyak di kulit kepala, maka makin memperparah kondisi," jelasnya lagi.

Pria yang juga pernah bertanggung jawab di salon Shunji Matsuo Singapura ini juga melihat bahwa ada kecenderungan para penata rambut di Indonesia untuk menipiskan rambut kliennya. "Teknik penipisan rambut di salon-salon Indonesia sering merasa kesulitan menata rambut klien yang akhirnya datang menemui saya. Nampaknya teknik penipisan rambut adalah hal yang paling sering dilakukan di sini. Sementara tren tahun 2011 ini adalah bagian atas rambut cenderung heavy, seperti bob yang tebal. Bagaimana saya bisa menata rambut yang sudah ditipiskan. Seperti menata rambut yang sebagian besarnya sudah tidak ada. Ini sulit. Tetapi, kembali lagi kepada keahlian penata rambutnya dan keterbukaan dari si kliennya juga. Kalau ia berani dipotong pendek sekali, kita bisa bantu cari cara," jelasnya.

Berkait dengan keterbukaan klien, Hisato mengungkap perbedaan karakteristik antara pelanggan di Indonesia dan di negara asalnya, Jepang. "Kalau masyarakat Jepang, mereka lebih terbuka dan senang mengikuti tren. Mereka tak masalah untuk melakukan pewarnaan terang dan perming (pengeritingan). Sementara masyarakat Indonesia, ingin ikut tren, tetapi masih berpikir ulang. Malu-malu. Yang saya perhatikan dari klien-klien saya, awalnya mereka akan menolak jika saya coba tawarkan perubahan drastis. Tetapi setelah melalui pendekatan beberapa kali mereka datang ke salon saya, perlahan tapi pasti, mereka mulai terbuka dengan saran saya. Memang, untuk hal seperti ini, dibutuhkan pendekatan tersendiri. Harus ada trust antara hairdresser dan klien. Seperti bertemu dengan dokter. Saya ini kan dokter rambut. Klien harus kenal siapa saya dan mempercayakan saya untuk menata kesehatan serta penampilan rambut mereka," papar Hisato sambil tersenyum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau