Pembangunan

Freeport Bangun Lanud untuk Warga Mimika

Kompas.com - 28/01/2011, 11:09 WIB

TIMIKA, KOMPAS.com - Lapangan terbang Mulu di atas bukit dengan ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dan berada di dataran tinggi Kabupaten Mimika, telah selesai pengerjaannya.

Pengerjaan dilakukan PT Freeport Indonesia (PTFI) dan selanjutnya diserahkan kepada masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Mimika untuk dikelola untuk kepentingan masyarakat umum.

Lapangan terbang Mulu tersebut diresmikan Bupati Mimika, Klemen Timal, Jumat (28/1/2011) disaksikan langsung para tokoh masyarakat dan ratusan warga Tsinga. Upacara peresmian dihadiri para pejabat teras di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika, Ketua DPRD Mimika, Trifena M. Tinal, Danrem 171/PVT Kol (Inf) Hironimus Guru, Dandim 1710-Mimika, Letkol (Inf) Boni Christian Pardede dan Kepala Polres Mimika AKBP Moch Sagi.

Lapangan terbang Mulu tersebut dibangun PT Freeport Indonesia sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam program pengembangan masyarakat, terutama pengembangan masyarakat di tiga desa yang berada di dataran tinggi Kabupaten Mimika, yaitu desa Tsinga, Aroanop dan Banti.

Dalam sambutannya mewakili manajemen PT Freeport Indonesia, Wakil Presiden Eksekutif-Hubungan Eksternal-PTFI, Sonny Kosasih menjelaskan, pembangunan lapangan terbang Mulu dilaksanakan sebagai bagian dari komitmen PTFI dalam Program Pembangunan Tiga Desa (Waa-Banti, Aroanop dan Tsinga) yang diperuntukkan bagi kemajuan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan.

Pada kesempatan yang sama, sebelum upacara peresmian, Wakil Presiden Eksekutif-Hubungan Eksternal-PTFI, Sonny Kosasih, secara resmi menyerahkan fasilitas lapangan terbang perintis tersebut kepada Pendeta Obeth Jawame dari Gereja Kemah Injili Indonesia (GKII), Jemaat Imannuel-Tsinga, yang mewakili warga Tsinga.

Lapangan udara ini memiliki landasan pacu sepanjang 630 meter dan lebar 30 meter, berserta seluruh fasilitas pendukung teknis yang sesuai standar keselamatan penerbangan, terletak di ketinggian 2,000 meter di atas permukaan laut, di punggung pegunungan daerah dataran tinggi Tsinga.

"Dengan adanya lapangan terbang ini, perjalanan antara Tsinga dan Timika yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 4 hari dengan berjalan kaki dapat dipersingkat menjadi sekitar 15 menit penerbangan. Dengan itu juga, bahan makanan dan obat yang diperlukan oleh masyarakat setempat dapat didistribusikan dengan lebih cepat dan dalam kondisi yang lebih baik," katanya.

Operasional lapangan terbang Mulu selanjutnya akan berada langsung di bawah kendali Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, Bidang Perhubungan Udara Mimika.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau