Kenaikan gaji pejabat

Pejabat Saja Kena Inflasi, "Gimana" Rakyat

Kompas.com - 28/01/2011, 15:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua DPR Anis Matta mengatakan, kenaikan gaji bagi para pejabat publik merupakan dampak inflasi yang tinggi. Namun, menurut dia, kenaikan gaji tersebut tidak mendesak sama sekali, bahkan tidak etis untuk disinggung di depan rakyat.

Pejabat publik seharusnya bertolak pada kenyataan ekonomi masyarakatnya terlebih dahulu. "Kalau pemerintah men-declare angka inflasi berapa, yang dirasakan masyarakat jauh lebih besar. Oleh karena itu, sekarang kalau kita lihat, gaji pejabat sekarang sudah tidak mencukupi living cost mereka. Itu efek inflasi yang tidak sesuai dengan apa yang diumumkan pemerintah. Boleh jadi kenyataannya lebih besar. Oleh karena itu, gaji tinggi pun dirasa tidak memenuhi. Lalu gimana impact-nya kepada orang yang tidak bergaji tinggi," katanya di Gedung DPR, Jumat (28/1/2011).

Anis menegaskan dirinya tidak setuju sama sekali dengan usulan kenaikan gaji bagi pejabat publik di tengah kondisi seperti ini. Pemerintah saat ini menetapkan 1 dollar AS per hari untuk standar hidup garis kemiskinan. Namun, faktanya, jumlah itu tidak cukup untuk hidup di Indonesia dalam satu hari. Bahkan, lanjutnya, dengan 2 dollar AS per hari saja masih sulit untuk menjalani hidup yang layak di Indonesia.

Lagi pula, jika ditetapkan standar 2 dollar AS, ini akan berdampak pada melesatnya jumlah orang miskin di Indonesia. "Kita menipu diri sendiri bahwa dengan mengatakan orang di Indonesia bisa hidup dengan 1 dollar AS sendiri. Pejabat yang minta naik gaji artinya mereka terkena efek inflasi juga. Gaji DPR sekarang sudah sangat bagus saya rasa. Tidak ada alasan untuk menaikkannya," katanya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau