Pertambangan Tidak Terkendali

Kompas.com - 29/01/2011, 04:35 WIB

Jakarta, Kompas - Pengaplingan kawasan kepulauan menjadi wilayah tambang terus terjadi tanpa terkendali. Tambang di kepulauan berpotensi merusak lingkungan hidup, meningkatkan konflik, dan memiskinkan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan.

Pengampanye timah Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Ratno Budi, menyatakan, pemerintah seharusnya belajar dari pertambangan timah di Kepulauan Bangka Belitung.

Ratno menyatakan, selama ratusan tahun, Bangka Belitung memasok separuh kebutuhan dunia, meninggalkan 3.000 lebih lubang tambang yang tidak direklamasi, dan 1,4 juta hektar lahan kritis.

”Karena daratan Bangka Belitung dianggap tidak potensial lagi untuk ditambang, para petambang mengeruk dasar lautan di sekitar Bangka Belitung. Sedimentasi pengerukan dasar laut merusak 50 persen terumbu karang di kepulauan itu. Kehidupan nelayan semakin buruk sehingga 30 persen dari 45.000 nelayan beralih profesi menjadi petambang. Kerusakan lingkungan semakin parah. Perusahaan tambang berizin membeli timah yang ditambang rakyat,” kata Ratno, selaku pembicara diskusi ”Janji Pemerintah di Balik Penyelamatan Pulau Kecil” yang diselenggarakan Jatam di Jakarta, Jumat (28/1).

Pengampanye tambang Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Pius Ginting, menyatakan, pemerintah tidak belajar dari berbagai kasus penambangan yang menghancurkan ekosistem pulau berukuran kecil dan sedang yang rapuh.

”Di Pulau Halmahera yang berukuran 1.778.000 hektar, sekarang ada 137 izin pertambangan di Maluku Utara, khususnya di Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Timur, dan Halmahera Tengah,” kata Ginting dalam diskusi yang sama.

Ginting menyatakan, aktivitas pertambangan di Halmahera Utara telah membuat berbagai satwa berpindah ke hutan di Halmahera Tengah.

”Sementara pemerintah telah menerbitkan kuasa pertambangan seluas 54.874 hektar di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur untuk perusahaan tambang asal Perancis,” kata Ginting.

Walaupun tambang tersebut diperkirakan memiliki deposit nikel terbesar nomor tiga di dunia, kandungan nikel dalam tanah tergolong rendah.

”Jika perusahaan tersebut beroperasi, perusahaan itu harus mengeruk lebih banyak tanah untuk menghasilkan mineral nikel. Itu akan menghancurkan lingkungan salah satu pulau yang memiliki paling banyak spesies endemik di Indonesia. Penambangan tersebut juga mengancam masyarakat pemburu dan peramu di dalam areal konsesi, yaitu suku Togutil yang secara turun temurun bertempat tinggal di sana,” kata Ginting.

Sekretaris Eksekutif Justice, Peace, and Integrity of Creation OFM Indonesia Pastor Yohanes Kristo Tara OFM menyatakan, Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur seluas 14,3 juta hektar telah dikapling bagi 59 konsesi pertambangan.

”Di Kabupaten Timor Tengah Utara, Pulau Timor, ada 82 izin usaha pertambangan rakyat. Di Pulau Sumba ada dua izin pertambangan rakyat. Pulau kecil terancam karena pasca-otonomi daerah pemerintah menggelontorkan izin tambang. Di Pulau Timor Barat ada hampir 300 izin tambang mangan diterbitkan oleh empat kabupaten. Otonomi daerah membuat konsesi pertambangan bermunculan tanpa kendali,” kata Kristo.

Ia menegaskan, tambang telah terbukti mempermiskin masyarakat tempatan tambang. Kristo mengkritik kemiskinan yang dijadikan pembenar masuknya tambang ke Nusa Tenggara Timur.

”Dan, pertambangan menambah konflik, baik konflik vertikal maupun konflik horizontal. Nusa Tenggara Timur tidak membutuhkan tambang. Silakan bangun apa saja, tetapi jangan membangun tambang,” kata Kristo.

(ROW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau