baghdad, jumat
Bom tersebut meledak di dekat sebuah tenda yang sedang digunakan untuk upacara pemakaman seorang warga Syiah, Kamis sore. Ledakan yang terjadi begitu kuat sehingga menghancurkan tenda, mobil, dan kaca jendela rumah serta meninggalkan kawah penuh genangan darah para korban.
”Semua keluarga di daerah ini kehilangan saudara, teman, atau tetangganya akibat ledakan itu,” tutur Fakhir Mohammed (55), seorang saksi mata, yang menyebut lokasi ledakan berubah menjadi seperti medan perang.
”Daerah ini masih ditutup. Ada larangan berkendara. Orang harus minta izin ke petugas keamanan untuk masuk membawa peti-peti jenazah para korban untuk dimakamkan,” tutur Mohammed, yang kehilangan tiga keponakan dan empat temannya dalam ledakan itu.
Ketegangan memuncak setelah ledakan karena warga marah terhadap petugas keamanan yang gagal mencegah serangan bom tersebut terjadi. Polisi dan petugas keamanan, yang datang untuk menolong, disambut lemparan batu dan puing-puing ledakan oleh massa.
Saksi lain bernama Hussein Mohammed Saadi mengatakan, massa mengamuk setelah petugas keamanan yang pertama datang ke lokasi seolah-olah menyepelekan kejadian itu dan malah menuduh warga yang memasang bom tersebut.
Kemarahan massa baru mereda setelah Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki memerintahkan penangkapan dan pemeriksaan terhadap Letnan Kolonel Ahmed al-Obeidi, komandan tentara yang bertanggung jawab terhadap keamanan kawasan itu.
Para pejabat Pemerintah Irak menduga serangan tersebut disengaja untuk mengacaukan situasi keamanan di Irak menjelang pertemuan puncak para pemimpin Dunia Arab di Baghdad, Maret mendatang.
Dalam sepuluh hari terakhir, eskalasi kekerasan di Baghdad kembali meningkat. Bom bunuh diri, bom pinggir jalan, dan bom mobil telah menyebabkan sedikitnya 200 orang tewas. Sebagian besar korban adalah warga Syiah dan petugas keamanan.
Pada hari yang sama dengan kejadian di Shuala, 5 orang juga dilaporkan tewas dan 21 orang luka-luka akibat ledakan bom-bom pinggir jalan dan bom yang dipasang di sebuah minibus.
Irak terus dinodai berbagai aksi kekerasan berdarah setelah PM Nouri al-Maliki berhasil membentuk pemerintahan koalisi sekitar sebulan lalu. Pemerintahan ini memecah kebuntuan politik menyusul hasil pemilu Maret 2010.
Ledakan bom hari Kamis adalah serangan terbesar di Irak sejak 2 November 2010 saat tak kurang dari 11 bom mobil meledak bergantian di Baghdad, menewaskan 63 orang dan melukai 300 orang di kawasan yang dihuni mayoritas warga Syiah.
Dalam rangkaian kekerasan di bagian lain Timur Tengah, dua remaja Palestina ditembak oleh warga Israel di dekat salah satu permukiman Yahudi di Desa Beit Umar, dekat kota Hebron, Tepi Barat, Jumat pagi.
Dua kakak beradik, Murad Ikhlil (19) dan Yusef Ikhlil (17), dilarikan ke rumah sakit Al-Ahly di Hebron. Yusef dalam kondisi kritis setelah terkena peluru di bagian kepala, sementara Murad terkena tembakan di salah satu tangannya.
Kepala Desa Beit Umar Fawzi Sabarna mengatakan, belasan warga Israel tiba-tiba memasuki desanya, Jumat pagi, sambil menembaki rumah-rumah. Yusef dan Murad, yang sedang bekerja di ladang dekat desa itu, terkena tembakan.
Sehari sebelumnya, seorang warga Palestina lainnya, Uday Maher Qadous (18), tewas ditembak warga permukiman Yahudi di dekat Nablus, Tepi Barat.