Mengapa Kita Senang "Ngegosip"?

Kompas.com - 29/01/2011, 17:46 WIB

KOMPAS.com — Anda pernah menghitung, berapa jumlah acara infotainment di saluran televisi kita? Anda mungkin tak pernah melakukannya karena jumlahnya begitu banyak. Hal ini menandakan, acara gosip tersebut memang disukai dan dicari penonton televisi. Termasuk kita, tentunya.

Gosip sering melibatkan tokoh-tokoh selebriti. Namun, pada dasarnya kita tak hanya bergosip tentang selebriti, melainkan juga orang-orang di sekitar kita. Faktanya cukup mengerikan.

Menurut sebuah studi pada 2009 yang dilakukan Nicholas Emler PhD, profesor psikologi di University of Surrey, Inggris, sebanyak 80 persen dari obrolan sehari-hari kita bersifat pribadi, dan kebanyakan hanya merupakan gosip. Alasan utamanya, "Karena itu menyenangkan," kata Frank McAndrew PhD, profesor psikologi di Knox College di Galesburg, Illinois.

Bahkan, pikiran kita memang dirancang untuk berpikir seperti itu, demikian menurut antropolog biologis Helen Fisher PhD. Ketika kita mendengar sesuatu yang bernada gosip, otak kita menanggapi dengan cara yang sama seperti ketika kita mengalami pengalaman yang baru dan menarik. Pada saat itu, kadar dopamin pada otak meningkat.

"Dengan dorongan dopamin, datanglah energi dan rasa antusias," ujar penulis buku Why Him? Why Her?: How to Find and Keep Lasting Love ini.

Kenapa kita melakukannya
Alasan utama mengapa kita suka gosip adalah mengetahui apa yang terjadi pada orang lain. Karena kita tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya sedang dipikirkan orang lain, kita berusaha mengumpulkan informasi mengenai mereka dengan berusaha masuk ke alam pikiran mereka.

"Kita selalu menyelidiki, mencoba menyibak misteri di dalam dirinya," kata Emrys Westacott PhD, profesor filosofi di Alfred University in Alfred, New York, dan penulis buku The Virtues of Our Vices. Berbicara, meskipun isinya cuma gosip, menjadi langkah penting untuk mengenal orang melalui orang lain.

Anda mungkin akan berkilah, bukankah ada cara lain untuk mendapatkan informasi tersebut? Betul, tetapi sering kali kita tidak mampu menahannya. Bergosip adalah bagian dari DNA kita. Agar tetap hidup dan berkembang, nenek moyang kita harus bekerja dengan orang lain, dan mereka harus mengambil keputusan, siapa yang harus mereka percayai untuk berburu bersama, atau dengan siapa mereka harus berpasangan. Nah, melalui gosiplah mereka mendapatkan informasi tersebut. 

Pada masa sekarang, kita mungkin tidak perlu bergosip untuk bertahan hidup, tetapi hal ini bisa membantu kita mengetahui siapa yang bisa kita percayai, dan siapa yang harus kita jauhi. Gosip menjadi cara untuk menavigasi jaringan sosial kita yang rumit, kata Robin Dunbar PhD, direktur Institute of Cognitive & Evolutionary Anthropology di University of Oxford.

Di sisi lain, kita juga bergosip untuk membiarkan orang lain mengetahui siapa kita. Misalnya, Anda sedang mengabarkan tentang tetangga Anda yang sedang selingkuh. Maka dengan memberikan pendapat, kita ingin menunjukkan pada orang lain bagaimana moral kita. Sebaliknya, Anda juga akan menemukan apakah orang yang Anda ajak bicara sepakat dengan pendapat Anda atau tidak.

"Anda mungkin akan mengatakan pada teman Anda, 'Kita kan enggak pernah begitu ya?'" kata Dr Fisher. Anda berusaha mengafirmasi kembali dan menyiarkan nilai-nilai Anda sendiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau