SLEMAN, KOMPAS.com — Jembatan darurat di Dusun Salam, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, yang menghubungkan jalur alternatif Magelang-Solo, Sabtu (29/1/2011), mulai difungsikan. Jembatan darurat itu menggantikan sementara jembatan lama yang roboh diterjang banjir lahar dingin di aliran Sungai Opak.
"Meski telah difungsikan, jembatan ini sifatnya darurat sehingga kendaraan terbuka bemuatan dilarang untuk melintas," kata petugas pengawas jembatan, Feri Kurniawan.
Menurut dia, operasionalisasi jembatan yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman, Energi, dan Sumber Daya Mineral Provinsi DIY ini dikelola pemuda Dusun Salam selama 24 jam.
"Di masing-masing ujung jembatan dibuat pos penjagaan siang dan malam agar tidak ada kendaraan berat yang nekat melintas sekaligus menjaga jembatan agar terhindar orang usil yang mencopot baut. Kalau tidak diawasi, berbahaya," papar Feri.
Ia mengatakan, jembatan darurat tersebut sangat membantu warga, khususnya untuk akses ekonomi dan sekolah para pelajar. Sebab, mereka tidak lagi harus memutar sampai lebih dari 7 kilometer.
"Dengan berfungsinya jembatan darurat ini, warga Kecamatan Cangkringan dengan Pakem sudah bisa terhubung meski kendaraan yang lewat terbatas," tuturnya.
Feri menuturkan, pengendara yang melintas tidak dipungut biaya. Hanya, petugas memberikan kotak sukarela. "Uang tersebut digunakan untuk operasional warga yang berjaga," ucapnya.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman juga akan membangun jembatan darurat model bailey di Dusun Panggung, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, yang putus diterjang banjir lahar dingin Sungai Opak.
"Ada 14 jembatan yang putus akibat banjir lahar dingin, 1 jembatan provinsi, 8 jembatan kabupaten, dan 5 jembatan desa," kata Kepala DPUP Kabupaten Sleman Yuni Zaffria.
Saat ini yang akan dibuat jembatan darurat hanya jembatan kabupaten dan di tiga lokasi saja, yaitu di Dusun Panggung dan Teplok, Desa Argomulyo, serta Dusun Krajan, Desa Wukirsari.
"Jembatan di Krajan, Wukirsari, dan Teplok, Argomulyo, akan dibangun dengan model GI yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dan pejalan kaki," ujarnya.
Jembatan lain yang saat ini putus belum akan dipasangi jembatan darurat. Pengguna jalan hanya akan dialihkan ke jalur lain.
"Jika hanya dibuat jembatan dari bambu, percuma karena derasnya banjir lahar dingin. Pertimbangan kami, dari delapan jembatan kabupaten yang putus, tiga jembatan yang mendesak dibuat jembatan darurat karena di daerah itu ada infrastruktur pendidikan," katanya.
Yuni mengemukakan, saat ini DPUP sedang menghitung anggaran untuk pemasangan jembatan darurat itu.
"Diperkirakan tiga jembatan membutuhkan anggaran Rp 1,2 miliar dengan rincian jembatan bailey Rp 950 juta dan dua jembatan GI Rp 200 juta. Untuk jembatan bailey, anggaran paling besar adalah untuk biaya mobilisasi karena pinjam dari Jawa Timur. Nanti yang akan meminjam DPU provinsi karena urusannya lintas provinsi," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang