Jangan Ikut Campur

Kompas.com - 31/01/2011, 03:29 WIB

Davos, Minggu - Sementara politisi mempertimbangkan krisis di Mesir, para ahli internasional di Davos, Swiss, mengatakan bahwa dunia luar harus bertindak hati-hati dan membiarkan warga Mesir memutuskan masa depan mereka sendiri.

Mantan Presiden Meksiko Ernesto Zedillo, yang kini memimpin Pusat Kajian Globalisasi Universitas Yale, mengatakan, salah satu prinsip utama hukum internasional adalah ”tidak ikut campur masalah dalam negeri negara lain”. ”Saya rasa itu sebuah aturan yang sangat baik,” ujarnya.

Lord Mark Malloch-Brown, mantan Deputi Sekjen PBB yang kini ketua urusan global pada FTI Consulting di Inggris, mengatakan, PBB mencatat ketidaksetaraan dan ketiadaan ruang politik yang diprotes demonstran Mesir dalam Laporan Pembangunan Arab hampir 10 tahun lalu.

”Ini adalah saat yang luar biasa bagi Mesir,” katanya hari Minggu (30/1). ”Kita harus berharap hasilnya adalah sebuah pemerintahan yang lebih inklusif. Namun, bagaimana mereka mencapainya, kapan dan apakah pemerintah berganti, itu harus menjadi urusan orang Mesir.”

Kishore Mahbubani, mantan Duta Besar Singapura di PBB yang adalah Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, mengingatkan para VIP yang menghadiri sebuah panel dalam Forum Ekonomi Dunia bahwa ”jenis revolusi jalanan semacam ini bisa menyebabkan hasil negatif”.

”Itu sebabnya Anda melihat antusiasme dalam peliputan media Barat mengenai kejadian-kejadian ini tidak terasakan di tempat lain—karena mereka semua berpikir, hati-hati akan apa yang Anda harapkan, Anda bisa mendapatkan hal yang lebih buruk,” katanya.

Zedillo mengatakan bahwa dia, Malloch-Brown, dan Mahbubani adalah ”sahabat dekat” Mohamed ElBaradei, pemimpin oposisi Mesir pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang dilaporkan berada dalam tahanan rumah.

”Kami di sini, bertiga, mengatakan hati-hati, biarkan keadaan menjadi lebih jernih—dan kami adalah teman-teman tokoh oposisi dan kami mengatakan agar berhati-hati,” kata Zedillo.

Li Daokui, Direktur Pusat bagi China dalam Perekonomian Dunia, mengatakan, dia ”teramat berhati-hati mengenai apa yang mungkin terjadi”.

”Mungkin satu implikasi mendalam dari apa yang terjadi sekarang di Mesir bagi dunia adalah banyak pemerintah akan mendengarkan secara saksama melalui internet pada nada opini publik dan kemudian... mungkin merancang atau menerapkan prosedur untuk segera merespons pesan-pesan baru tertentu di internet,” katanya.

Li mengatakan, para pembuat keputusan di China ”sangat tahu betul hal ini”.

Mereka mengetahui distribusi dan pertumbuhan inklusif adalah penting dan ”mereka mendapat kelas pelatihan, program pelatihan untuk mendengarkan serta merespons pesan-pesan publik di internet”, katanya.

Malloch-Brown mengatakan, ”Kita hidup di sebuah dunia di mana Anda dapat mengatakan hal mendalam bahwa pemerintah yang peka, representatif, inklusif yang mendengarkan dan merespons kemarahan rakyat... adalah jenis pemerintah yang akan bertahan, dan mereka biasanya, namun tidak selalu, demokratis.”

Tanpa menyebut nama, Malloch-Brown mengatakan, pemerintah yang menjadi kaku dan formalistik, yang mengandalkan pasukan keamanannya dan bukan menggunakan antena politik untuk merespons dan menguasai rakyat, akan mendapat masalah.

(AP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau