Dikendalikan oleh partai otoriter yang sama, Partai Ba’ath, Suriah sepertinya tenang-tenang saja meski di dunia Arab lain, seperti Sudan, Lebanon, Yaman, Tunisia, dan kini Mesir, sedang bergolak. Tunisia telah menjatuhkan rezim otokratik Presiden Zine al-Abidine Ben Ali. Kini rakyat Mesir berjuang melengserkan rezim Presiden Hosni Mubarak.
Apakah Suriah akan tetap tenang? Khaled Yacoub Oweis dari Reuters mengatakan, sebenarnya Suriah tampak tenang di permukaan saja. Negara ini diam-diam sedang ketar-ketir oleh kemungkinan terkena imbas dari pergolakan tetangga, negara-negara Arab lainnya.
Pemerintah Suriah sebenarnya hampir saja berkomentar tentang gejolak di Mesir yang memasuki hari keenam pada Minggu (30/1). Selama 30 tahun rezim Mubarak, Mesir nyaris tidak pernah diguncang pergolakan sosial, terutama unjuk rasa besar-besaran seperti saat ini. Mesir relatif tenang.
Kasus korupsi, kemiskinan, pengangguran, serta pemerintahan yang represif dan otoriter, termasuk mengendalikan media, telah membuat rakyat Mesir kecewa. Rakyat akar rumput di Suriah pun sebenarnya sedang ramai mempergunjingkan negaranya setelah becermin pada kasus Tunisia dan Mesir.
Memang belum ada tanda-tanda bahwa pergolakan Tunisia dan Mesir bisa memicu protes menuntut reformasi di Suriah. Hierarki yang berkuasa di negara itu telah bergerak cepat untuk mengantisipasi perbedaan pendapat yang tajam di kalangan warga dan oposisi.
Langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah antara lain menerapkan subsidi bahan bakar minyak dan memperketat kontrol atas layanan internet, termasuk situs jejaring sosial. Selain itu, tokoh oposisi sayap kiri berusia 69 tahun divonis penjara selama tujuh tahun oleh pengadilan keamanan khusus karena mempersoalkan monopoli Partai Ba’ath.
Rakyat Suriah dipimpin Presiden Bashar al-Assad dari Partai Ba’ath sejak 17 Juli 2000, yang sebenarnya seorang pemimpin yang lemah. Bashar yang menerima kekuasaan dari ayahnya, mantan presiden tiga periode, Hafez al-Assad, dinilai tak mampu memimpin Suriah menuju negara yang makmur dan aman.
Kekuasaan turun-temurun adalah ancaman, selain praktik korupsi, kemiskinan, dan pengangguran. Sekalipun dialiri sungai besar Eufrat—seperti Mesir dialiri Sungai Nil—salah kelola air oleh pemerintah menyebabkan Suriah timur yang berbatasan dengan Irak dan Turki menjadi ”mangkuk debu”.
Terjadi krisis air besar-besaran di jantung pertanian Suriah, menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi selama lima tahun terakhir. Selain itu, aksi kekerasan atau diskriminasi terhadap kelompok minoritas etnis Kurdi telah melanda wilayah timur sejak 2004 dan mengakibatkan jatuh banyak korban jiwa.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, tahun lalu, 800.000 orang di wilayah timur mengalami krisis air dan hidup di dalam kemiskinan ekstrem. Sebenarnya daerah itu dapat memberikan hasil pertanian yang lebih besar daripada yang pernah dicapai selama ini.
Selain itu, produksi minyak Suriah timur, yang pada tahun 2006 pernah mencapai 590.000 barrel per hari, belakangan ini merosot tajam, hanya 380.000 barrel per hari. Banyak orang menjadi frustrasi, tidak puas terhadap pemerintah karena tidak mampu memaksimalkan potensi sumber daya yang tersedia demi kemakmuran rakyatnya.
Berbagai persoalan itu bagaikan bara api yang diam-diam membakar bagian bawah sekam, tetapi cepat atau lambat akan membakar habis hingga permukaan. AFP melaporkan, aktivis Suriah dan tokoh oposisi, termasuk Michel Kilo dan produser film Omar Amiralay, hari Minggu memuji revolusi Tunisia serta pergolakan rakyat Mesir sebagai contoh terbaik untuk pemerintah otoriter dan lemah di seluruh dunia Arab.
”Kami salut kepada rakyat Tunisia, juga kepada pemberontakan rakyat Mesir. Rakyat Suriah juga bercita-cita untuk menggapai keadilan dan kebebasan yang sama,” kata mereka dalam sebuah pernyataan kepada AFP.
Rakyat Suriah kini diam-diam tengah mencerna semua persoalan yang dialami di dalam negeri. Mereka ingin reformasi besar-besaran juga dapat dilakukan di Suriah. Banyak tokoh politik telah membuat pernyataan menuntut reformasi. Mereka berharap kepada semua orang, termasuk warga Suriah, untuk berjuang keras menggapai kebebasan, keadilan, dan kesetaraan untuk semua.