Dolly

NU Jatim: Penutupan Dolly, Harga Mati

Kompas.com - 31/01/2011, 20:39 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menegaskan bahwa penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya merupakan harga mati yang harus dilaksanakan.

"NU harus menjadi garda terdepan dalam amar makruf nahi makruf, karena itu penutupan Dolly merupakan harga mati, tapi dengan pendekatan arif dan bijak," kata Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Agoes Ali Masyhuri, Senin (31/1/2011).

Ia mengemukakan hal itu di sela-sela syukuran Hari Lahir (Harlah) ke-88 NU pada 16 Rajab 1432 Hijriah yang dihadiri Mustasyar PBNU KH Makruf Amin dan KH Muchit Muzadi, Waketum PBNU H As’ad Ali, Mustasyar PWNU Habib Zein Alkaff, Rais Syuriah PWNU KH Miftachul Akhyar dan pengurus cabang NU se-Jatim.

Menurut Gus Ali yang juga Pesantren Bumi Shalawat, Tanggulangin, Sidoarjo itu, PWNU Jatim menegaskan hal itu, karena Rasulullah SAW telah bersabda bahwa bila riba dan zina telah merajalela berarti penduduk setempat siap menerima azab Allah SWT.

"Karena itu, NU harus mengawal benar bahwa penutupan lokalisasi Dolly bukan wacana, tapi pelaksanaannya harus dengan pendekatan arif kepada PSK (pekerja seks komersil) supaya mereka kembali ke masyarakat untuk menjadi ibu yang baik," katanya.

Tentang alasan ekonomi yang digunakan para PSK, ia menilai itu tidak logis karena faktor ekonomi tergantung kepada bekal moral agama dan bekal ketrampilan supaya mereka mempunyai kemapanan ekonomi yang paling mendasar.

"Tapi, target untuk penutupan itu memang harus realistis, sebab masalah sosial membutuhkan penataan perangkat secara komprehensif, nggak boleh setengah-setengah karena itu perlu pendekatan kepada masyarakat, germo, dan PSK," katanya.

Untuk itu, PWNU Jatim siap dimintai bantuan untuk ikut menyadarkan masyarakat setempat dan penghuni lokalisasi, namun pemerintah harus menyiapkan langkah komprehensif, termasuk kaum intelektual juga harus berpartisipasi.

"Pendekatannya harus arif dan komprehensif, karena bagaimana pun, mereka adalah umat atau masyarakat kita sendiri, tapi kalau ulama, umara, akademisi, dan sebagainya berperan, maka nggak sampai setahun akan terlaksana penutupan itu," katanya.

Menanggapi keinginan PWNU Jatim itu, Mustasyar PBNU KH Makruf Amin menyatakan dukungan bila PWNU Jatim mengusahakan penutupan lokalisasi Dolly bersama pemerintah setempat.

"Kalau Jakarta saja bisa menjadikan lokalisasi sebagai Islamic Center, masak Jatim justru memiliki lokalisasi paling besar se-Asia Tenggara itu," katanya.

Secara terpisah, Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah menyatakan rencana penutupan lokalisasi Dolly itu sudah disepakati bersama MUI Jatim dan sejumlah ormas Islam di Jatim.

"Insya-Allah, tahun ini sudah mulai ada langkah-langkah ke sana dan bukan wacana lagi. Nanti, kami akan bersama-sama menemui wakil rakyat di DPRD Surabaya untuk mendukung langkah yang sudah diproyeksikan Pemprov Jatim itu," katanya.

Peringatan Harlah ke-88 NU itu ditandai dengan peresmian Aswaja Center di Gedung Perpustakaan PWNU Jatim oleh Waketum H As’ad Ali dan pencanangan Lailatul Ijtimak di seluruh Jatim oleh Mustasyar PBNU KH Makruf Amin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau