NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak mentah Brent melampaui 100 dollar Amerika Serikat per barrel untuk pertama kalinya sejak 2008 pada Senin (31/1/2011) waktu setempat, melompat lebih dari satu persen karena kerusuhan di Mesir dan meningkatnya ekspektasi permintaan.
Presiden Mesir Hosni Mubarak merombak pemerintahannya dalam upaya untuk meredakan pemberontakan populer yang telah menaikkan kekhawatiran tentang pengiriman minyak melalui Terusan Suez dan sebuah jalur pipa utama yang melalui negeri itu.
Lonjakan pada Brent, yang telah naik dari 70 dollar per barrel pada Agustus karena peningkatan permintaan global, juga menggerakkan kekhawatiran di negara konsumen bahwa kenaikan harga bahan bakar bisa mengganggu pemulihan ekonomi global.
Pejabat dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengatakan tidak ada kekurangan minyak di pasar dan tidak perlu meningkatkan produksi sekarang.
Dingin parah di bagian belahan bumi utara pada musim dingin ini juga mendukung rallyminyak baru-baru ini. Dukungan aktivitas pabrik Midwest AS dan pengeluaran konsumen yang menguat memicu harapan permintaan dan membantu mengubah minyak mentah menjadi sangat positif.
Di London, minyak mentah Brent ICE untuk Maret naik 1,59 menjadi berakhir pada 101,01 dollar per barel dan intraday mencapai 101,73 dollar, tertinggi sejak harga menyentuh 103,29 dollar pada 29 September 2008.
Minyak mentah AS untuk pengiriman Maret naik 2,85 dollar, atau 3,19 persen, menjadi menetap di 92,19 dollar per barel, mencapai 92,84 dollar pada intraday, keduanya yang tertinggi sejak Oktober 2008.
Para analis dan broker memperkirakan Brent bergerak lebih dari 100 dollar membantu mendorong minyak mentah AS di atas 92,58 dollar, puncak 2011 sebelumnya dari 3 Januari. "Momentum meningkat. Pedagang membeli di tengah kekhawatiran bahwa segala hal bisa meningkat lebih jauh di Timur Tengah dan menyebar ke negara-negara lain," kata Tom Bentz, pialang di BNP Paribas Commodity Futures Inc di New York. Harga minyak berombak sebelumnya, dengan pedagang menilai kembali lonjakan harga Jumat setelah kekhawatiran tentang penularan gagal terwujud pada akhir pekan.
Kekuatan harga mempersempit kesenjangan acuan minyak mentah West Texas Intermediate terhadap Brent menjadi kurang dari sembilan dollar per barel setelah melebar ke rekor mendekati rekor di atas 12 dollar per barrel minggu lalu.
Produksi Brent North Sea semakin berkurang dan persediaan minyak mentah AS tinggi, terutama pada saat Cushing, Oklahoma, poin penyerahan WTI, telah dilihat sebagai faktor yang menyebabkan kesenjangan melebar, bersama dengan daya tarik investor ’dengan momentum bullish. Destilasi (sulingan) AS terlihat jatuh untuk pekan hingga 28 Januari akibat cuaca dingin di raksasa pasar minyak pemanas Northeast AS, sedangkan kenaikan impor AS terlihat meningkatkan cadangan minyak mentah, menurut jajak pendapat Reuters terhadap para analis menjelang data persediaan AS pada Selasa dan Rabu.
Mesir bukan merupakan penghasil minyak utama tetapi protes dan tuntutan untuk perubahan politik di sana datang dua minggu setelah presiden Tunisia digulingkan dan investor khawatir bahwa negara-negara produsen minyak di kawasan tersebut mungkin menghadapi protes serupa.
Mesir mengontrol Terusan Suez dan jalur pipa Suez-Mediterania(SUMED), yang bersama-sama memindahkan lebih dari dua juta barrel per hari (bpd) dari produk minyak mentah dan produk minyak pada 2009. Pengiriman sejauh ini berjalan seperti biasa melalui Terusan Suez 192-km (120 mil) namun operasi pelabuhan telah melambat oleh protes.
Sekjen OPEC Abdullah al-Badri mengatakan kelompok produsen minyak itu akan meningkatkan pasokan minyak dalam hal terjadi kekurangan yang nyata, tapi tidak berharap kerusuhan di Mesir mempengaruhi aliran minyak melalui Terusan Suez atau pipa minyak SUMED.
Para menteri minyak OPEC akan membahas kebijakan produksi pada sela-sela konferensi di Arab Saudi bulan depan, seorang delegasi OPEC mengatakan kepada Reuters.
Para menteri dijadwalkan bertemu pada 22 Februari di Riyadh dengan rekan-rekan dari negara-negara konsumen minyak dan Badan Energi Internasional (IEA) di Forum Energi Internasional.
Tapi Menteri Perminyakan Saudi Ali al-Naimi mengatakan pada sebuah konferensi industri bahwa lonjakan harga itu lebih berkaitan dengan nilai dari dollar dan perilaku pedagang minyak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang