Banjir lahar

Menanti Luruhnya Lahar

Kompas.com - 01/02/2011, 10:20 WIB

Cornelius Helmy

KOMPAS.com - Fase bahaya primer letusan Gunung Merapi, seperti leleran lava, awan panas, atau lontaran material vulkanik, bisa jadi telah lewat. Namun, bahaya sekunder masih menghantui masyarakat sekitar bantaran sungai yang berhulu di Merapi.

Bahaya sekunder aliran lahar (lahar dingin) kini menjadi ancaman paling dahsyat ketimbang ancaman lainnya, seperti banjir bandang atau longsoran vulkanik.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono mengatakan, di tengah tingginya curah hujan, ada dua pemicu terjadinya banjir lahar, yaitu material vulkanik halus (debu, kerikil halus, dan pasir) serta endapan awan panas.

Dikatakan, material halus vulkanik dalam jumlah banyak bisa memicu banjir lahar bila masuk aliran sungai dan bercampur air. Fenomena ini bisa dilihat dari kejadian banjir lahar dingin di semua sungai di barat yang berhulu di Merapi.

Surono menjelaskan, muntahan material vulkanik—mencapai 150 juta meter kubik— membuat banyak material halus, seperti debu dan pasir, menyembur tinggi ke udara membentuk tiang asap. Berdasarkan data PVMBG, tinggi tiang asap mencapai 3 kilometer dari puncak Merapi. Saat energinya habis, material menyebar sesuai arah angin yang saat letusan bertiup ke arah barat. Akibatnya, banyak material vulkanik jatuh di sungai daerah barat, seperti Pabelan, Lamat, Putih, dan Krasak.

Begitu masuk ke sungai, material halus akan bercampur dengan air sehingga berat jenis air sungai meningkat dan lebih bertenaga. Tidak mengherankan bila material sungai, seperti batuan besar, amat mudah terangkat dan hanyut. Kekuatan mengangkat batu besar juga dipengaruhi tingginya sifat gelincir air yang bercampur debu vulkanik.

”Batu besar yang hanyut itu sebagian besar sudah ada di sungai dan bukan muntahan letusan 2010,” katanya.

Kondisi geografis di barat Merapi yang berkontur curam di puncak tetapi landai di daerah yang telah dibangun untuk infrastruktur umum. Kontur ini menyebabkan laju lahar lebih deras dan berdaya rusak besar.

Penyebab kedua adalah endapan vulkanik dari aktivitas awan panas. Ini terlihat di sungai sebelah selatan Merapi, ada 30-40 persen, di mana terdapat Sungai Gendol dan Opak. Endapan awan panas di sana ada di kedalaman 30 sentimeter di bawah permukaan air.

Suhu 490 derajat celsius

Secara visual, material vulkanik terlihat mengeras di luar tetapi sesungguhnya bagian dalam masih panas, suhunya bisa mencapai 490 derajat celsius. Indikasinya, ada bau belereng dan ada letusan kecil akibat endapan awan panas bertemu dengan air sungai yang dingin.

”Harus diwaspadai kapan endapan itu tergerus aliran sungai. Itu berbahaya bagi masyarakat di sepanjang aliran sungai. Beberapa infrastruktur umum juga bisa terkena dampak, seperti Bandara Adisutjipto dan candi di sekitar Sungai Gendol,” katanya. Dampak banjir lahar ke wilayah timur dan utara Merapi, seperti Kabupaten Boyolali, tidak akan separah daerah barat dan selatan. Daerah utara dan timur dilindungi dinding Merapi tua yang amat solid, sulit ditembus.

Peringatan serupa disampaikan Kepala Bidang Pencegahan Direktorat Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana Lilik Kurniawan. Dia mengatakan, dengan intensitas banjir lahar yang deras dan besar, alur sungai lama di Sungai Putih terbuka kembali karena sifat banjir lahar cenderung bergerak lurus.

Itu terlihat di Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Daerah ini awalnya adalah alur lama Sungai Putih yang ditutup demi pembangunan jembatan.

Ia mengingatkan, butuh waktu sekitar tiga musim hujan atau tiga tahun untuk mengubah endapan awan panas letusan 2010 menjadi lahar. Awan panas itu adalah yang terbesar dan terpanjang sepanjang sejarah studi Gunung Merapi di Indonesia. Daya jangkaunya mencapai 12 km dari puncak.

Surono mengatakan, yang penting adalah waspada karena tak ada rekayasa teknologi yang bisa menahan laju lahar (dingin). Bagi penduduk sekitar bantaran sungai, terutama di daerah kelokan sungai, diharapkan mengungsi sementara. Jika ada rencana pelurusan dan pengerukan sungai, diharapkan dilakukan secara teliti dan saksama agar aliran lahar justru menjadi lebih deras dan lebih keras daya hantamnya.

Lilik mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta memasang alat pemantau informasi jarak jauh (telemetri) di enam sungai di barat dan selatan Merapi, seperti di Sungai Putih, Boyong, Opak, dan Krasak. Yang dipantau yaitu kondisi sungai dengan kamera pemantau (CCTV), getaran akibat aliran lahar dengan geofon, dan intensitas curah hujan. ”Data dari telemetri itu untuk memetakan daerah yang masih aman,” katanya.

Juga dilakukan pendampingan sukarelawan dari Forum Merapi guna memantau aliran lahar secara visual dan melaporkan lewat radio komunikasi.

”Masyarakat memiliki peran penting. Mereka solid dan punya pengalaman menghadapi Merapi. Khusus masyarakat Yogyakarta, kerja sama dan sifat gotong royongnya sudah teruji saat pascagempa 2006,” kata Lilik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau