Pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Senin (1/2) mengatakan, pemerintah AS lebih suka Mubarak (82) tak mengikuti pemilihan umum (pemilu) yang dijadwalkan pada September. Hal ini tidak dipublikasikan terbuka karena dikhawatirkan menimbulkan ketidakstabilan di Mesir di tengah meningkatnya sinyal tumbangnya pemerintahan Mubarak.
Para pejabat menyampaikan hal ini secara anonim karena sensitivitas diplomasi dan situasi sulit yang dihadapi pemerintahan Barack Obama. AS terbelah antara pengunjuk rasa yang prodemokrasi dan sekutu erat yang mendukung kepentingan AS selama tiga dekade.
Pemerintah AS secara resmi tidak mau berbicara soal masa depan Mubarak. Mereka hanya menekankan bahwa pemilu harus terbuka dan jujur.
”Pemerintah AS tidak menentukan siapa yang berada di surat suara. Masyarakat yang menginginkan kebebasan lebih luas tak membutuhkan orang lain untuk menentukan siapa yang mereka pilih dan bagaimana perubahan yang diinginkan,” ujar juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs.
Washington mencari jalan terbaik untuk memuluskan jalan terbentuknya pemerintahan yang lebih representatif di Mesir. Opsinya antara lain Mubarak mundur dan digantikan Wakil Presiden Omar Suleiman atau tidak ikut pemilu.
Gibbs mengesampingkan upaya Mubarak membentuk pemerintahan baru, Senin lalu. ”Ini bukan soal penunjukan, melainkan soal aksi. Hal itu yang orang di seluruh dunia ingin lihat dari Pemerintah Mesir,” ujar Gibbs.
Dari Turki, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan meminta Mubarak mendengar harapan warganya untuk perubahan. Menurut Erdogan, solusi masalah politik hanyalah pemilu.
”Dengarkan suara rakyat. Jangan ragu-ragu memenuhi keinginan rakyat akan perubahan. Jika ada masalah, solusinya ada di kotak suara,” ujar Erdogan.
Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle, Selasa, mengeluarkan larangan berpergian bagi warga Jerman ke Mesir terkait dengan kekacauan di negara itu. Larangan itu berlaku untuk seluruh negeri, termasuk resor wisata di tepi Laut Merah yang populer di kalangan wisatawan.
Operator wisata Jerman, Rewe, yang tengah membawa 3.100 wisatawan di Mesir, menganjurkan pelanggan yang sudah memesan paket wisata ke Mesir pada pekan depan untuk mengundurkan jadwal mereka. Sebanyak 1,2 juta wisatawan Jerman mengunjungi Mesir setiap tahun, menempatkan mereka dalam tiga besar negara asal turis ke Mesir.