AS Harap Mubarak Tak Calonkan Diri Lagi

Kompas.com - 02/02/2011, 03:11 WIB

Washington, Senin - Amerika Serikat punya visi soal transisi Mesir menuju demokrasi yang sesungguhnya: Presiden Hosni Mubarak mencabut keadaan darurat yang menopang pemerintahan tangan besinya selama tiga dekade dan mengubur ambisinya untuk ikut pemilihan umum lagi.

Pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Senin (1/2) mengatakan, pemerintah AS lebih suka Mubarak (82) tak mengikuti pemilihan umum (pemilu) yang dijadwalkan pada September. Hal ini tidak dipublikasikan terbuka karena dikhawatirkan menimbulkan ketidakstabilan di Mesir di tengah meningkatnya sinyal tumbangnya pemerintahan Mubarak.

Para pejabat menyampaikan hal ini secara anonim karena sensitivitas diplomasi dan situasi sulit yang dihadapi pemerintahan Barack Obama. AS terbelah antara pengunjuk rasa yang prodemokrasi dan sekutu erat yang mendukung kepentingan AS selama tiga dekade.

Pemerintah AS secara resmi tidak mau berbicara soal masa depan Mubarak. Mereka hanya menekankan bahwa pemilu harus terbuka dan jujur.

”Pemerintah AS tidak menentukan siapa yang berada di surat suara. Masyarakat yang menginginkan kebebasan lebih luas tak membutuhkan orang lain untuk menentukan siapa yang mereka pilih dan bagaimana perubahan yang diinginkan,” ujar juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs.

Washington mencari jalan terbaik untuk memuluskan jalan terbentuknya pemerintahan yang lebih representatif di Mesir. Opsinya antara lain Mubarak mundur dan digantikan Wakil Presiden Omar Suleiman atau tidak ikut pemilu.

Gibbs mengesampingkan upaya Mubarak membentuk pemerintahan baru, Senin lalu. ”Ini bukan soal penunjukan, melainkan soal aksi. Hal itu yang orang di seluruh dunia ingin lihat dari Pemerintah Mesir,” ujar Gibbs.

Dari Turki, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan meminta Mubarak mendengar harapan warganya untuk perubahan. Menurut Erdogan, solusi masalah politik hanyalah pemilu.

”Dengarkan suara rakyat. Jangan ragu-ragu memenuhi keinginan rakyat akan perubahan. Jika ada masalah, solusinya ada di kotak suara,” ujar Erdogan.

Larangan bepergian

Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle, Selasa, mengeluarkan larangan berpergian bagi warga Jerman ke Mesir terkait dengan kekacauan di negara itu. Larangan itu berlaku untuk seluruh negeri, termasuk resor wisata di tepi Laut Merah yang populer di kalangan wisatawan.

Operator wisata Jerman, Rewe, yang tengah membawa 3.100 wisatawan di Mesir, menganjurkan pelanggan yang sudah memesan paket wisata ke Mesir pada pekan depan untuk mengundurkan jadwal mereka. Sebanyak 1,2 juta wisatawan Jerman mengunjungi Mesir setiap tahun, menempatkan mereka dalam tiga besar negara asal turis ke Mesir. (AP/Reuters/was)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau