Singkirkan Nyeri Kepala dengan Akupuntur

Kompas.com - 02/02/2011, 12:07 WIB

Kompas.com - Bila Anda sering diserang nyeri kepala namun pemeriksaan dokter tidak menemukan adanya kelainan atau infeksi, boleh jadi Anda menderita nyeri kepala primer. Data menunjukkan 95 persen pasien yang datang karena keluhan nyeri kepala menderita nyeri kepala primer yang artinya bukan disebabkan tumor atau masalah medis yang serius.

Menurut ilmu pengobatan tradisional Tiongkok, penyebab utama nyeri kepala biasanya berkaitan dengan faktor psikis, seperti faktor emosi atau kelebihan beban kerja fisik. Pola makan yang salah, aktivitas seksual berlebih, faktor keturunan dan terlalu sering melahirkan dalam jarak yang dekat juga bisa mencetuskan nyeri kepala.

"Nyeri yang timbul pada dasarnya disebabkan akibat adanya aliran energi atau chi yang tidak lancar. Karena itu seringkali ditemukan orang yang tetap merasakan nyeri meski hasil rontgen dan pemeriksaan medis menunjukkan tidak adanya masalah. Ini terjadi ketika organ tubuh yang secara materi bagus tapi fungsinya jelek," papar Michael Fang, ahli akupuntur dari Tirtayu Healing Center Jakarta.

Penyembuhan ala akupuntur bukanlah sekedar mengatasi gejala atau "tembak langsung" ke bagian yang memunculkan nyeri atau keluhan lainnya. "Penanganannya berprinsip pada keseimbangan yin dan yang. Teknik akupuntur ini bertujuan untuk menyeimbangkan sirkulasi chi," kata Michael.

Dalam pandangan akupuntur, setiap organ tubuh saling berpasangan, yakni organ padat dan organ berongga. Misalnya organ liver yang berpasangan dengan kantung empedu, organ ginjal dengan kandung kemih, jantung dengan usus kecil, paru dengan usus besar, serta limpa dengan lambung.

"Beban kerja fisik dapat melukai energi organ limpa dan yin ginjal. Kekurangan yin ginjal bisa menyebabkan sakit kepala menyeluruh yang akhirnya berkembang menjadi migren di sepanjang meridien kandung empedu," papar Michael mencontohkan.

Pada kasus aktivitas seksual berlebihan, maka ginjal tidak cukup energi dan waktu untuk memproduksi sperma sehingga bisa menyebabkan organ liver (yang dianggap anak organ ginjal) menjadi kelelahan dan memicu sakit kepala.

Karena itu menurut pria yang juga ahli traditional chinese medicine (TCM) ini, ketika mengobati pasien yang menderita nyeri kepala di bagian dahi, jarum akupuntur tidak akan ditusukkan di dahi tetapi bagian lain di kaki. "Pada dasarnya semua jalur akupuntur akan melewati kepala sehingga kebanyakan terapi akupuntur tidak ditusukkan di kepala," imbuhnya.

Pengobatan dengan akupuntur dilakukan dalam satu seri yang terdiri dari 12 kali kedatangan. Meski demikian banyak juga pasien yang tidak melengkapi seri terapi karena merasakan keluhannya sudah menghilang.

Hal itu juga dirasakan Hani, wanita yang menderita vertigo ini baru menjalani setengah seri terapi namun berhenti karena penyakitnya hilang. Sebelumnya ia rutin mengonsumsi obat medis dari dokter namun tidak menunjukkan perbaikan. "Setelah 2 minggu melakukan akupuntur sekarang vertigo saya tidak pernah kumat. Beberapa keluhan lain juga menghilang," papar ibu dua anak ini.

Michael menerangkan, nyeri kepala biasanya tidak dipicu oleh satu hal namun disertai gejala lain. Pada kasus Hani, ia menemukan adanya gangguan pada organ liver sehingga menyebabkan keluhan nyeri haid atau sering tersedak.

Untuk mengoptimalkan penyembuhan, biasanya Michael juga menganjurkan pasiennya untuk mengonsumsi obat herbal dari Cina. "Kombinasi akupuntur dan obat herbal sangat baik," paparnya. Meski begitu Michael menjelaskan tidak semua penyakit nyeri kepala bisa diatasi dengan akupuntur.

"Penyakit tumor di kepala, perdarahan atau infeksi tidak bisa diatasi dengan akupuntur, harus tetap menjalani pengobatan medis. Yang bisa disembuhkan adalah penyakit yang lebih banyak disebabkan faktor psikis atau stres," kata pemilik Fang Clinic di bilangan Cibubur ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau