JAKARTA, KOMPAS.com — Sulitnya akses komunikasi masuk ke Mesir tak urung membuat para keluarga dari warga Indonesia yang berada di negara tersebut cemas bukan kepalang. Sambungan internet yang menjadi andalan penghubung dengan sanak keluarga nan jauh di sana pun tak bisa pula dilakukan lantaran diblokir pemerintahan Mesir. Sambungan telepon juga selalu terputus.
"Sudah sekitar tujuh sampai sepuluh hari komunikasi kami dengan adik saya, Sofyan, terputus. Lewat e-mail, chatting, atau telepon tidak ada yang bisa," ujar Ridwan, Rabu (2/2/2011), saat dijumpai di Asrama Haji Jakarta, Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur.
Selama sepuluh hari tersebut, satu anggota keuarganya yang tinggal di Bandung terus-menerus memantau peristiwa kerusuhan di Mesir. Perasaan cemas tak bisa dihindari.
"Seharian kami bergiliran menonton berita di televisi kalau-kalau terjadi sesuatu pada adik kami, Sofyan," ujar Ridwan.
Setelah hilang kontak selama sepuluh hari, Ridwan akhirnya berhasil menelepon sang adik melalui ponselnya. "Terputus-putus, tapi pesan yang penting kami tangkap bahwa dia akan pulang dan anak istrinya masuk kloter pertama. Alhamdulillah adik saya tidak apa-apa," ungkap Ridwan.
Namun, Sofyan tidak masuk dalam daftar kloter pertama yang diberangkatkan dari Kairo menuju Jakarta. "Yang penting anak dan istrinya kembali karena anaknya itu kami belum pernah lihat. Jadi sekalian reuni sekeluarga," ucap Ridwan yang langsung diamini para anggota keluarganya yang menjemput di Asrama Haji Jakarta.
Kesulitan berkomunikasi juga dialami Aliya. Aliya yang tengah menunggu kedatangan sang keponakan, Liklik, bersama dua anggota keluarganya ini mengaku tujuh hari tak berkomunikasi dengan Lilik yang berada di Kairo.
"Sebulan sekali kami biasa bertelepon. Namun sejak terakhir kira-kira seminggu lalu Liklik tak bisa lagi kami telepon. Kami jadi khawatir. Begitu lihat berita, ternyata ada konflik di Mesir," ujar Aliya.
Orangtua Liklik, yang tak hadir menjemput, diceritakan Aliya, sempat terpukul akibat konflik yang terjadi tersebut. "Mereka sempat panik. Sulit makan karena khawatir tidak ada kabar dari Liklik," ujarnya.
Komunikasi baru terjadi pada Senin (31/1/2011) malam. Anehnya, setelah selalu gagal menghubungi Liklik, baik via telepon maupun internet, saudara Liklik di Mekkah justru berhasil mengontak mahasiswi S-2 jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Al-Azhar tersebut.
"Pas Senin malam itu, dapat kabar dari Mekkah kalau Liklik bilang kondisi Kairo lagi gawat dan WNI harus segera pulang," ungkap Aliya.
Selama tak berkomunikasi, Aliya menceritakan bahwa keluarga mengobati rasa rindu bercampur cemas dengan membuka Facebook Liklik dan melihat foto-foto keluarga yang tengah rekreasi di Mesir.
"Dia sangat suka sekali dengan Mesir. Semoga saja dia bisa datang ke Jakarta dan kembali ke Kairo melanjutkan studinya," kata Aliya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang