Mesir bergolak

10 Hari Komunikasi ke Kairo Terputus

Kompas.com - 02/02/2011, 14:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sulitnya akses komunikasi masuk ke Mesir tak urung membuat para keluarga dari warga Indonesia yang berada di negara tersebut cemas bukan kepalang. Sambungan internet yang menjadi andalan penghubung dengan sanak keluarga nan jauh di sana pun tak bisa pula dilakukan lantaran diblokir pemerintahan Mesir. Sambungan telepon juga selalu terputus.

"Sudah sekitar tujuh sampai sepuluh hari komunikasi kami dengan adik saya, Sofyan, terputus. Lewat e-mail, chatting, atau telepon tidak ada yang bisa," ujar Ridwan, Rabu (2/2/2011), saat dijumpai di Asrama Haji Jakarta, Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur.

Selama sepuluh hari tersebut, satu anggota keuarganya yang tinggal di Bandung terus-menerus memantau peristiwa kerusuhan di Mesir. Perasaan cemas tak bisa dihindari.

"Seharian kami bergiliran menonton berita di televisi kalau-kalau terjadi sesuatu pada adik kami, Sofyan," ujar Ridwan.

Setelah hilang kontak selama sepuluh hari, Ridwan akhirnya berhasil menelepon sang adik melalui ponselnya. "Terputus-putus, tapi pesan yang penting kami tangkap bahwa dia akan pulang dan anak istrinya masuk kloter pertama. Alhamdulillah adik saya tidak apa-apa," ungkap Ridwan.

Namun, Sofyan tidak masuk dalam daftar kloter pertama yang diberangkatkan dari Kairo menuju Jakarta. "Yang penting anak dan istrinya kembali karena anaknya itu kami belum pernah lihat. Jadi sekalian reuni sekeluarga," ucap Ridwan yang langsung diamini para anggota keluarganya yang menjemput di Asrama Haji Jakarta.

Kesulitan berkomunikasi juga dialami Aliya. Aliya yang tengah menunggu kedatangan sang keponakan, Liklik, bersama dua anggota keluarganya ini mengaku tujuh hari tak berkomunikasi dengan Lilik yang berada di Kairo.

"Sebulan sekali kami biasa bertelepon. Namun sejak terakhir kira-kira seminggu lalu Liklik tak bisa lagi kami telepon. Kami jadi khawatir. Begitu lihat berita, ternyata ada konflik di Mesir," ujar Aliya.

Orangtua Liklik, yang tak hadir menjemput, diceritakan Aliya, sempat terpukul akibat konflik yang terjadi tersebut. "Mereka sempat panik. Sulit makan karena khawatir tidak ada kabar dari Liklik," ujarnya.

Komunikasi baru terjadi pada Senin (31/1/2011) malam. Anehnya, setelah selalu gagal menghubungi Liklik, baik via telepon maupun internet, saudara Liklik di Mekkah justru berhasil mengontak mahasiswi S-2 jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Al-Azhar tersebut.

"Pas Senin malam itu, dapat kabar dari Mekkah kalau Liklik bilang kondisi Kairo lagi gawat dan WNI harus segera pulang," ungkap Aliya.

Selama tak berkomunikasi, Aliya menceritakan bahwa keluarga mengobati rasa rindu bercampur cemas dengan membuka Facebook Liklik dan melihat foto-foto keluarga yang tengah rekreasi di Mesir.

"Dia sangat suka sekali dengan Mesir. Semoga saja dia bisa datang ke Jakarta dan kembali ke Kairo melanjutkan studinya," kata Aliya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau