New7wonders

Waduh... Komodo Terancam Dicopot

Kompas.com - 02/02/2011, 15:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam breaking news yang tercantum di www.new7wonders.com, pihak Yayasan New7Wonders sebagai penyelenggara New7Wonders mengumumkan status Pulau Komodo sebagai finalis akan ditangguhkan mulai 7 Februari 2011. Pulau Komodo merupakan salah satu finalis dari 7 Keajaiban Dunia kategori alam. Pengumuman yang dilansir tersebut menyebutkan alasan penangguhan karena "Pernyataan resmi serta kontrak kerja sama dengan pihak terkait tidak ditepati".

"Penangguhan ini berarti semua suara atau vote untuk Komodo selama masa kampanye 7 Keajaiban Alam Dunia tidak akan diperhitungkan," demikian bunyi breaking news yang tercantum di website tersebut. Sementara itu, menurut Head of Communications Eamonn Fitzgerald dalam rilis yang dilansir Senin (31/1/2011) melalui website www.n7wpress.wordpress.com menyebutkan bahwa Yayasan New7Wonders telah memulai proses penangguhan tersebut.

"Kami terpaksa mengambil langkah ini karena setelah beberapa minggu berdiskusi secara personal maupun formal yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah legal secara positif berlangsung tidak produktif," kata President of the New7Wonders Foundation, Bernard Weber.

Alasan utama dari langkah tersebut menurut Weber adalah kurangnya respons dari sebuah instansi pemerintah dalam pengurusan kontrak legal penyelenggaraan Indonesia sebagai tuan rumah New7Wonders yang rencananya akan bertempat di Jakarta pada 11 November 2011.

Selanjutnya, Weber menjelaskan dalam surat personal yang ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa pihaknya secepatnya membatalkan proses penangguhan tersebut jika sudah berjalan sesuai kesepakatan awal. Namun apabila sebaliknya terjadi, maka pihaknya tidak akan ragu untuk mencopot posisi Komodo dan menggantikannya dengan finalis dari daftar cadangan.

Sementara itu, Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar menyebutkan pihaknya sedang mempelajari dengan seksama dan mempertanyakan alasan dari Yayasan New7Wonders.

"Kita tanyakan alasannya mengapa. Apakah mengenai voting atau hosting? Kalau mengenai pembayaran, pembayaran mengenai apa? Kita akan klarifikasi kewajiban kita," kata Sapta kepada Kompas.com, Rabu (2/2/2011).

Ia juga menambahkan bahwa memang dari pihak Yayasan New7Wonders setelah melalui proses bidding menginginkan Indonesia menjadi tuan rumah untuk acara pengumuman 11 November 2011 mendatang.

"Tapi kontraknya belum ada. Kita akan lihat lagi aspek juridisnya," katanya.

Sapta juga mempertanyakan jika masalah mengenai hosting, mengapa voting dihapus. Apabila permasalahan mengenai pembayaran menjadi finalis, Sapta mengaku pihaknya telah membayar biaya pendaftaran tersebut.

"Masa voting dikaitkan dengan hosting," ungkapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau