IMF's Message for Indonesia after Soeharto's Resignation

Kompas.com - 02/02/2011, 16:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - The IMF said Wednesday it had learnt from its mistakes during the 1997-1998 Asian financial crisis and had undertaken reform to give the region’s countries a greater say in how the Fund is managed.

International Monetary Fund chief Dominique Strauss-Kahn said the Fund wanted a fresh start with Asia as he visited Indonesia, Southeast Asia’s biggest economy, and met President Susilo Bambang Yudhoyono.

Indonesia was hit hard by the Asian crisis and the IMF remains deeply unpopular in the country of 240 million people for its tough package of austerity measures designed to pull the economy out of bankruptcy.

“The main message today is simple. We have to look forward. The IMF has changed,” Strauss-Kahn told reporters.

“You have in front on you a new IMF where there’s voting power and the voice of Asian countries has increased a lot.

“The last reform we made in governance changed the IMF to reflect better the state of the world and in the new state of the world, Asia in general, Indonesia in particular, has a bigger role than in the past.”

He said his meeting with Yudhoyono was the “foundation for rebuilding a new kind of relationship between the IMF and Asia, and Indonesia in particular”.

Strauss-Kahn told reporters in Singapore on Tuesday that the IMF had been insensitive to local political and historical circumstances as it struggled to restore confidence in Southeast Asian economies more than a decade ago.

“We have drawn lesson from the way the IMF and Indonesia had worked together 10 years ago and certainly we did things right but we also did things wrong. And we have to accept this,” he told reporters in Jakarta.

“So we have learnt from this and in many programmes and loans... the experience of Indonesia has been very useful to avoid different kind of mistake.”

“Though the experience has been harmful, painful for the Indonesian people ... the consequences of this is that the IMF has changed a lot.”

The Asian crisis began in Thailand and spread through the region like wildfire, crushing currencies, sucking liquidity out of banks and driving foreign debt to bankruptcy levels. Violent protests erupted on the streets of Jakarta, bringing an end to the three-decade rule of military strongman Soeharto, who resigned in 1998.

The IMF came to the rescue with $40 billion in bailouts for Indonesia, South Korea and Thailand, but many said the policies it imposed on governments were too tough on the poor and vulnerable. The Fund announced in November that it would double its capital and adopt measures to give China and other emerging-market economies a greater say.

Proposed by the Group of 20 advanced and emerging-market economies, the package of long-sought reforms aims to better reflect the growing importance of big emerging-market and developing economies in the global economy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau