Jakarta, Kompas - Kekurangan gizi dan perilaku hidup bersih sehat masih menjadi persoalan utama di Indonesia. Untuk memperoleh pengakuan internasional, seharusnya kalangan akademisi dan praktisi kesehatan masyarakat dan kedokteran lebih fokus pada penelitian untuk mencari solusi kedua isu itu.
Hal itu dikemukakan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih ketika menyampaikan Orasi Ilmiah dalam ”Dies Natalis Universitas Indonesia Ke-61 Tingkat Fakultas Kedokteran UI Tahun 2011”, Rabu (2/2) di Jakarta.
”Jangan hanya fokus pada penelitian berteknologi canggih dan modern. Hal itu memang perlu agar kita tidak ketinggalan, tetapi juga perlu dipikirkan nasib masyarakat Indonesia di daerah terpencil, perbatasan, dan tertinggal,” kata Endang.
Menurut Endang, ada ”ancaman” peningkatan beban ganda penyakit, yaitu penyakit menular dan penyakit degeneratif. Di sisi lain, akses dan kualitas pelayanan kesehatan yang bermutu belum merata. ”Boro-boro anggaran untuk penelitian kesehatan dan kedokteran, anggaran untuk pelayanan kesehatan saja masih terbatas,” kata Endang.
Untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian, Endang berharap perguruan tinggi membangkitkan minat penelitian di kalangan mahasiswa terutama terhadap penelitian sosial, humaniora, dan kesehatan masyarakat.
”Ubah paradigma yang lebih berorientasi pada kepentingan pasien. Dokter tidak cukup hanya melakukan tindakan yang by the book. Harus betul-betul mendekati pasien. Hal ini bisa dipelajari dengan penelitian humaniora,” kata Endang.
Direktur Utama RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Akmal Taher menambahkan, ada peningkatan jumlah penelitian di RSCM, dari 358 penelitian pada 2009 menjadi 573 penelitian tahun 2010.
Presiden Akademi Sains Indonesia Sangkot Marzuki mengingatkan para peneliti untuk mengubah pola pikir. ”Kalau ingin kompetitif secara internasional, jangan hanya meneliti sebagai reaksi adanya dana penelitian,” kata Sangkot.
Jika serius, sebenarnya perguruan tinggi tidak perlu risau dengan biaya penelitian. Perguruan tinggi bisa bekerja sama dengan lembaga penelitian lain atau kalangan industri untuk tukar-menukar dan saling mendukung keahlian, pengalaman, dan teknologi. ”Peralatan riset sangat mahal dan cepat berganti. Jika ada kerja sama, bukan lagi masalah,” kata Sangkot. (LUK)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang