Ibu Bekerja, Anak Jadi Obesitas?

Kompas.com - 05/02/2011, 10:46 WIB

KOMPAS.com - Lagi-lagi, peran wanita sebagai ibu dan perempuan bekerja dipertanyakan. Di Amerika, selama 35 tahun terakhir jumlah kaum ibu yang tetap bekerja sambil mengasuh anak telah melonjak, dari kurang dari 50 persen ke lebih dari 70 persen. Tingkat obesitas anak, yang hampir mendekati 17 persen, telah meningkat lebih dari tiga kali lipat pada kurun waktu tersebut.

Kedua fenomena ini dipandang bukan suatu kebetulan. Studi baru yang diterbitkan di jurnal Child Development mengatakan bahwa semakin lama ibu bekerja, semakin naik kecenderungan anak menjadi overweight atau obesitas. Anak-anak kelas 6 SD yang datang dari ibu bekerja, kecenderungan mereka menjadi overweight naik enam kali lipat dibanding mereka yang ibunya tidak bekerja.

Memang, ketiadaan ibu di rumah tidak langsung menyebabkan masalah berat badan pada anak. Kurangnya waktu ibu untuk memasak sendiri untuk anak menyebabkan anak bergantung pada makanan cepat saji atau kemasan, yang akhirnya menyebabkan masalah obesitas ini.
 
"Ini bukan masalah pekerjaan ibu, tapi lingkungannya," kata penulis studi ini, Taryn Morrissey, PhD, asisten profesor administrasi dan kebijakan publik di American University di Washington, DC. "Akses untuk makanan sehat itu perlu diperbaiki."
 
Tim Morrissey menganalisa data yang dimulai pada tahun 1991, dan mengamati lebih dari 1.000 anak di seluruh negara, dari bayi hingga usia 15 tahun. Selama studi tersebut, peneliti mewawancara keluarga mengenai kehidupan mereka sehari-hari dan mengukur indeks massa tubuh anak (IMT, rasio tinggi dan berat badan yang mengestimasi lemak tubuh secara total).
 
Tiga perempat dari ibu yang diteliti adalah ibu bekerja, dan mereka bekerja rata-rata 27 jam per minggu, ketika anak duduk di kelas 3 SD. Sebanyak 80 persen ibu tersebut tinggal bersama suami atau pasangan yang juga bekerja penuh waktu.

Namun, studi ini tidak mengumpulkan data mengenai kebiasaan makan keluarga, sehingga peneliti tidak mampu mengonfirmasi dugaan mereka bahwa pola makan adalah penyebab dari hasil penemuan mereka itu. Tak satu pun faktor yang dilihat peneliti -entah itu jumlah waktu yang dihabiskan untuk menonton TV, aktivitas fisik sehari-hari, dan pengawasan orangtua- membantu menjelaskan kaitan antara ketiadaan ibu di rumah dengan IMT anak. Begitu pula apakah jam kerja ibu yang teratur (9 to 5), atau yang bergantung shift, menjelaskan hubungan dua hal ini. Di lain pihak, tim Morrissey juga tidak mempertimbangkan faktor potensial lainnya, seperti kekacauan dalam keluarga (seperti perceraian) atau riwayat pekerjaan pihak ayah.
 
Itu sebabnya, Michele Mietus-Snyder, MD, direktur Obesity Institute di Children's National Medical Center, Washington, DC, menekankan bahwa studi ini hanya menyebabkan kaitan, bukan sebab-akibat. Toh, dengan berbagai kekurangan tersebut, studi ini menambah jumlah literatur ilmiah yang menghubungkan berat badan anak dengan jam kerja ibu. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan kaitan kuat antara kedua hal tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau