Perampokan

Berlagak Antar Durian, Rampok Bos Tekstil

Kompas.com - 07/02/2011, 10:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rumah seorang pengusaha tekstil keturunan India di kawasan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, disatroni kawanan perampok, Sabtu (5/2/2011) malam. Sang pengusaha disekap, hartanya berupa uang Rp 20 juta dan perhiasan emas seberat 180-an gram digasak.

Pengusaha yang dirampok itu adalah Manoj Kumar Mishra (39). Para perampok bisa masuk ke rumah Kumar yang terletak di Jalan Agung Permai Raya Blok C3 No 17 karena berlagak mengantarkan buah durian. Rumah Kumar merupakan rumah mewah yang memiliki pagar tinggi. Selain itu, kompleks permukiman elite ini juga selalu dijaga petugas keamanan.

Sugiharto, salah seorang petugas keamanan di sana, memperkirakan perampok yang mendatangi rumah Kumar berjumlah lima orang. Mereka masuk dengan mobil Panther abu-abu bernomor polisi B 1106 FPI.

"Kaca mobilnya gelap sehingga penjaga yang bertugas saat itu tidak sadar kalau ada beberapa orang di bagian belakang mobil," kata Sugiarto, yang menerima laporan dari petugas jaga sebelumnya.

Mobil Panther tersebut, kata Sugiharto, masuk ke dalam kompleks seolah-olah penumpangnya sebagai tamu. "Sewaktu akan masuk, penumpang yang duduk di samping sopir menanyakan alamat rumah Kumar. Dia mengatakan akan mengantarkan makanan. Kalau enggak salah, ngomongnya mau antar durian," tuturnya.

Sebenarnya, kata Sugiharto, penjaga keamanan menaruh curiga. Namun, kecurigaan itu hilang setelah melihat para pria yang datang ke rumah Kumar diterima langsung oleh si empunya rumah.

"Karena yang menerima mereka itu langsung pemilik rumah, petugas tak lagi memerhatikannya," katanya.

Ternyata, setelah bisa masuk ke rumah, para penumpang Panther itu melakukan perampokan.

Menurut Kumar dalam laporannya ke petugas Polsektro Tanjung Priok, para perampok mengancamnya dengan senjata api laras panjang. Dia tak kuasa melawan. Begitu pula dengan tiga pembantu yang ada di rumahnya. Kawanan perampok itu menyekap mereka di suatu ruangan.

Setelah melumpuhkan seluruh penghuni rumah, para penjahat itu pergi dengan menggondol tiga kalung emas seberat 180-an gram dan uang Rp 20 juta.

Sugiharto mengatakan, perampokan itu berlangsung cepat. "Mobil Panther-nya sendiri hanya parkir sebentar, sekitar 15 menit," ujarnya.

Kawanan perampok itu tampaknya hanya mengincar perhiasan dan uang, sebab dua mobil milik Kumar yang terparkir tidak disentuh sama sekali. Saat itu di depan rumah Kumar ada mobil Honda CR-V dan Nissan Serena.

Ketika wartawan hendak meminta keterangan apakah ada motif lain dari para perampok, Kumar tidak bersedia mengatakan apa pun. Begitu pula dengan anggota keluarganya. Bahkan, saat seorang anggota keluarga pemilik rumah keluar, yang lain langsung menutupi semua pintu dan buru-buru masuk.

Hingga kemarin, pejabat Polsektro Tanjung Priok belum bersedia memberikan penjelasan mengenai kasus tersebut. Kepala Seksi Humas Polsektro Tanjung Priok Aiptu P Simanjutak mengatakan, sejauh ini sudah ada dua saksi yang diperiksa.

"Belum ada perkembangan (hasil penyelidikan tentang) siapa pelakunya," ujarnya. (Toto Sunandar)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau