Kontes tempat wisata

Komodo Tetap Finalis 7 Keajaiban Alam Baru

Kompas.com - 08/02/2011, 04:25 WIB

Jakarta, Kompas - New7Wonders Foundation, penyelenggara pemilihan Tujuh Keajaiban Alam Baru, Senin (7/2) malam, tetap memutuskan Taman Nasional Komodo sebagai satu dari 28 finalis. Namun, mereka menghapus Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dari daftar pendukung resmi kegiatan.

Bernard Webber, Presiden dan Penggagas New7Wonders Foundation, melalui informasi dalam situsnya yang dirilis Senin pukul 20.00 WIB, memutuskan, Taman Nasional (TN) Komodo tetap dalam daftar finalis atas masukan publik. Pemilih masih dapat menyalurkan suara untuk TN Komodo.

Mereka mencoret Kembudpar dari daftar pendukung. Kembudpar dinilai tidak serius mengikuti perhelatan itu.

Perselisihan New7Wonders Foundation dengan Kembudpar dipicu masalah tuan rumah untuk pengumuman pemenang pemilihan itu pada 11 November 2011. Menurut penyelenggara, Kembudpar telah bersedia dan menyanggupi sebagai tuan rumah. Namun, beberapa waktu kemudian, Kembudpar menyatakan tidak bersedia.

Kembudpar terkendala kebutuhan dana sebagai tuan rumah yang mencapai 45 juta dollar AS (sekitar Rp 400 miliar). Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik kepada wartawan, Senin, menyatakan, angka ini tidak realistis.

Rincian dana yang diminta adalah 10 juta dollar AS untuk uang tanda jadi sebagai tuan rumah. Sementara 35 juta dollar AS guna penyediaan tempat dan penyelenggaraan acara.

Perselisihan ini sempat mengancam TN Komodo tercoret dari pemilihan melalui voting di internet. Akhirnya, penyelenggara tetap memasukkan TN Komodo sebagai finalis bersama 27 obyek lain.

Para nominator dipilih dari 440 calon nominator di 220 negara. Pada babak pertama, Desember 2007 hingga 7 Juli 2009, terpilih 77 kandidat. Kemudian disaring menjadi 28 finalis yang diumumkan pada 21 Juli 2010.

Saingan TN Komodo antara lain Kepulauan Galapagos, Sungai Amazon dengan volume air terbesar di dunia di Brasil, Angel Falls yang merupakan air terjun tertinggi di dunia di Venezuela, Pulau Maladewa, Pulau Jeju di Korea Selatan, sungai bawah tanah Puerto Princesa di Filipina, Laut Mati di Timur Tengah, ngarai dan tebing terjal Grand Canyon di Amerika Serikat, serta Gunung Kilimanjaro di Tanzania.

Promosi

Jero Wacik menjelaskan, Kembudpar selama tiga tahun mengeluarkan dana Rp 10 miliar untuk membiayai promosi dan kampanye ”Vote Komodo”. Kampanye ini demi menyukseskan terpilihnya TN Komodo sebagai satu dari Tujuh Keajaiban Alam Baru.

Jero Wacik menyatakan, lewat promosi, Komodo kian terkenal. ”Kunjungan wisatawan ke Komodo dalam tiga tahun terakhir meningkat 300 persen, dari 16.000 orang menjadi 50.000 orang,” katanya.

Namun, jumlah wisatawan ke TN Komodo di Nusa Tenggara Timur harus dibatasi untuk menjaga ekosistem dan kondisi satwa komodo agar tidak stres. (ich)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau