Komodo

Kemenbudpar Tetap Konsisten Menuntut

Kompas.com - 08/02/2011, 09:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) seharusnya membantu pihak New7Wonders dan mencari solusi untuk menghargai kontrak berkekuatan hukum sebagai tuan rumah deklarasi New7Wonders yang ditandatangani pihak New7Wonders dengan konsorsium swasta dari Indonesia, sebuah konsorsium yang dari awal didukung Kemenbudpar. Hal ini diungkapkan Presiden dan Penggagas New7Wonders, Bernard Weber dalam rilis Senin (7/2/2011) yang diterima Kompas.com via email.

Negara yang menjadi tuan rumah deklarasi New7Wonders diharuskan membayar license fee sebesar 10 juta dollar AS. Sementara itu, saat Kompas.com mengonfirmasi mengenai dukungan terhadap sebuah konsorsium swasta, Dirjen Pemasaran Kemenbudpar Sapta Nirwandar melalui telepon, Senin (7/2/2011) mengatakan bahwa tidak ada bentuk dukungan tersebut.

"Tidak ada, kami tidak meng-endorse. Kalau endorse itu harus ada rekomendasi tertulis. Ini tidak ada. Apalagi jumlah sebesar itu. Mereka (konsorsium swasta dari Indonesia) menunjuk diri sendiri tanpa konsultasi ke kita," ungkap Sapta.

Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya memang telah bertemu dengan konsorsium swasta tersebut, karena Kemenbudpar terbuka menerima dukungan dari siapa saja. Namun, Kemenbudpar tidak mengetahui bahwa konsorsium swasta tersebut ternyata telah berhubungan langsung dengan New7Wonders.

"Mereka (New7Wonders) malah yang menyampaikan ke kita lewat surat, kalau konsorsium swasta ini partner mereka," katanya.

Dalam surat perihal "New7Wonders Official Host 2011-Jakarta, Indonesia" dari Director New7Wonders Jean-Paul de la Fuente kepada Menteri Jero Wacik tertanggal 6 Desember 2010 menyebutkan bahwa New7Wonders bekerja sama dengan sebuah yayasan dari Indonesia.

Sementara itu, dalam surat lanjutan tertanggal 29 Desember 2010, New7Wonders menyatakan bahwa yayasan tersebut diberi kekuasaan di bawah izin New7Wonders untuk bertindak sebagai New7Wonders Indonesia.

Taman Nasional Komodo terancam ditangguhkan atau dicoret sebagai finalis New7Wonders. Namun, pernyataan terbaru dari Yayasan New7Wonders menyebutkan bahwa yayasan memutuskan batal mencoret Komodo sehingga proses voting Komodo tetap berjalan. Namun, New7Wonders mencoret Kemenbudpar dari daftar pendukung resmi kegiatan karena dinilai tidak serius mengikuti perhelatan itu.

"Kita pelajari dulu, tapi kita tetap konsisten untuk menuntut," kata Sapta saat ditanyai mengenai pernyataan terbaru dari New7Wonders.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau