Kekerasan

Ketika Kedamaian di Cikeusik Terusik

Kompas.com - 09/02/2011, 08:59 WIB

KOMPAS.com — Kondisi Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, tak ubahnya perkampungan dan pedesaan lainnya. Rimbun pepohonan dan areal persawahan mudah ditemui di sepanjang jalan menuju perkampungan yang berada di wilayah Banten sisi selatan ini.

Dibutuhkan waktu sekitar lima jam dari Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, untuk menuju ke Kampung Peundeuy di Cikeusik. Adapun untuk menuju ke ibu kota Kabupaten Pandeglang, warga Peundeuy butuh waktu empat jam dengan menggunakan kendaraan melintasi jarak puluhan kilometer, lengkap dengan lubang-lubang di sepanjang ruas jalan.

Dengan kondisinya yang relatif terpelosok seperti itu, wajar apabila suasana tenang mendominasi permukiman warga. Namun, pada Minggu (6/2/2011) pagi, suasana Kampung Peundeuy memanas menyusul terjadinya insiden kekerasan antara ribuan warga wilayah sekitar dan jemaah Ahmadiyah yang berada di rumah milik Suparman.

Korban jiwa dan luka pun berjatuhan dalam peristiwa tersebut. Tak urung, insiden Minggu pagi berikut rentetan peristiwa yang mengikuti pun sekejap menjauhkan perkampungan itu dari suasana tenang yang sekian lama melingkupi Peundeuy.

Kesaksian Eka Hermawanto, Ketua Karang Taruna Peundeuy, masyarakat setempat sempat merasa tercekam pascainsiden itu. Beberapa di antaranya malah memilih mengungsi ke luar desa karena khawatir kemungkinan terjadi peristiwa susulan.

Beberapa warga Peundeuy yang ditemui menuturkan bahwa pada saat kejadian mereka hanya menonton. Ada pula penuturan bahwa saat terjadi pengejaran terhadap jemaah Ahmadiyah, ada warga setempat yang tengah memetik sayur, membiarkannya. Warga Peundeuy itu tahu bahwa jemaah tersebut sedang bersembunyi di balik tanaman dari kejaran orang-orang.

Informasi beberapa warga Peundeuy, ribuan orang yang Minggu pagi itu mendatangi rumah Suparman berasal dari luar kampung mereka. Keterangan kepolisian setempat mengonfirmasi, orang-orang tersebut bukan hanya dari satu kecamatan, melainkan banyak kecamatan di Pandeglang.

Trauma insiden Minggu pagi terbukti tidak hanya melanda penduduk di Peundeuy secara massal, tetapi juga ke tiap warga yang berdiam di rumah-rumah mereka. Kompas sempat mengunjungi rumah Aminah, ibu Suparman, pada Senin (7/2/2011). Di dalam rumah yang dindingnya belum sepenuhnya dilapisi semen itu, terlihat cucu-cucu perempuan Aminah jongkok dengan punggung menempel di dinding sambil memandangi neneknya yang menangis.

Aminah meratapi ketidakpastian keberadaan kedua anaknya, Tarno dan Roni, yang Minggu pagi berada di dalam rumah yang dikepung banyak orang. Raut muka kebingungan dan ketakutan membayang di wajah bocah-bocah perempuan yang berusia 10 tahun kurang itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau