Bersatu di Farmers Market

Kompas.com - 09/02/2011, 15:24 WIB

Oleh: Lusiana Indriasari

PULUHAN truk petani berjajar menawarkan hasil panennya di sebuah lahan kosong bernama Gilmore Lane. Pada 1934, berbekal keranjang piknik berukuran besar, Blanche Magee menjajakan roti sandwich dan kopi olahan dapurnya kepada para petani.

Itulah cikal bakal restoran pertama di Farmers Market, pasar sekaligus tempat makan dari berbagai bangsa di Los Angeles (LA), Amerika Serikat. Ketika akhirnya Earl B Gilmore, pemilik Gilmore Island, membangun lahan kosongnya menjadi sebuah pasar bernama Farmers Market, Magee meyakinkan Gilmore bahwa pasar juga butuh disediakan tempat untuk makan.

Ia lalu mendapat satu kios di sudut Farmers Market. Sebelumnya, Magee sudah membuka restoran kecil di pusat kota LA bernama Magee’s Kitchen. Ia kemudian mengembangkan cabang Magee’s Kitchen di Farmers Market.

Dari tahun ke tahun, Farmers Market menjadi tempat yang ramai dikunjungi orang. Tempat itu menjadi salah satu penanda kota LA selain Hollywood yang gemerlap.

”Cobalah sisi lain dari Hollywood, masuklah ke Farmers Market,” kata Guido, resepsionis hotel tempat kami menginap di kawasan La Cienega Boulevard, pertengahan bulan Januari lalu. Tertarik dengan tawaran Guido, kami memutuskan untuk mengunjungi Farmers Market yang jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari hotel.

Kami memutuskan berjalan kaki untuk membakar lemak di tubuh sebelum makan malam di Farmers Market. Sebelumnya, Guido sempat berpesan agar kami yang datang dari Benua Asia ini siap-siap kekenyangan menyantap porsi besar makanan orang Amerika.

Hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk berjalan kaki di pasar yang berlokasi di sudut persimpangan Thirdstreet dan Fairfax Avenue itu.

Suasana di Farmers Market cukup ramai malam itu. Begitu masuk ke bangunan pasar yang sebagian besar terbuat dari kayu, tercium bau kopi yang menyengat dari beberapa kios penjual minuman panas.

Sebelum memutuskan untuk duduk dan makan, kami menelusuri lebih dulu lorong-lorong lebar di dalam Farmers Market. Lorong-lorong itu tercipta dari bangunan-bangunan kayu yang mengelilingi lahan terbuka dengan beberapa pepohonan besar dibiarkan tumbuh di tengah halaman. Ada tiga belas pintu masuk ke dalam pasar.

Lorong itu penuh dengan deretan kios yang menawarkan masakan dari berbagai bangsa. Semua kios dirancang dengan konsep dapur terbuka, di mana pengunjung bisa melihat para koki sibuk mengolah makanan yang akan disajikan sambil berdiri mengantre giliran untuk dilayani.

Masakan yang ditawarkan di Farmers Market menggambarkan perpaduan budaya warga kota LA. Selain masakan khas Amerika, seperti steak, sandwich, dan roasted beef, masih banyak lagi gerai yang menyediakan masakan Meksiko, Spanyol, China, Korea, Jepang, Prancis, atau masakan Yunani dan negara Mediterania lainnya. Semuanya bersatu di Farmers Market.

Rasanya cukup tergoda untuk mencoba makanan di situ satu per satu. Selain makanan, beberapa kios menawarkan cendera mata untuk wisatawan. Ada kios mainan, butik penjual parfum, kaos, toko cokelat, es krim, toko kue khusus untuk anjing, dan masih banyak lagi. Totalnya ada lebih dari 100 kios di Farmers Market.

Setelah puas berkeliling di dalam pasar, kami memilih duduk di salah satu sudut lorong yang dilengkapi penghangat udara. Hawa dingin yang menyergap membuat perut segera merasakan lapar.

Malam itu kami memutuskan menyambangi Magee’s Kitchen yang melegenda di LA. Cukup mudah menelusuri menu di Magee’s Kitchen karena tidak terlalu banyak masakan yang disajikan.

Salah satu menu favorit di situ adalah roasted beef yang disajikan dengan mash potato. Ada juga sandwich berisi irisan keju dan daging kalkun. Untuk roasted beef, pembeli bebas memilih dagingnya dimasak matang, setengah matang, atau bahkan dicampur keduanya.

Roasted beef ini disajikan dengan saus barbekyu yang dicampur dengan potongan kacang merah. Rasanya manis berbaur dengan daging panggang yang gurih. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk menghabiskan satu piring besar roasted beef.

Semua kursi di lorong-lorong Farmers Market hampir terisi penuh dengan pengunjung yang ingin makan malam atau sekadar duduk ditemani secangkir kopi sambil mengobrol dengan teman.

Bagi warga LA, Farmers Market menjadi salah satu tempat favorit untuk bertemu. Bahkan, jargon ”temui saya di Fairfax dan Thirdstreet” yang populer digunakan remaja tahun 1950-an untuk berkencan, sampai sekarang masih digunakan bagi mereka yang ingin bertemu di Farmers Market.

Sarapan pagi

Karena masih penasaran, kami memutuskan kembali ke Farmers Market beberapa hari berikutnya. Kali ini datang saat sarapan pagi sambil menikmati hangatnya sinar matahari yang bersinar cerah berpadu dengan hawa sejuk hari itu.

Untuk sarapan, pilihan jatuh pada Moishe’s Village yang menjual masakan Mediterania. Moishe’s Village ini juga salah satu gerai makan yang buka sejak tahun 1950-an, sudah lama ada di Farmers Market.

Lokasi Moishe’s Village ini berada di dekat pintu masuk Farmers Market yang berseberangan dengan factory outlet Gross. Makanan Yunani yang ditawarkan di sini bentuknya mirip pizza, ada yang berupa roti tebal dengan aneka isian di atasnya yang disebut Boerek. Boerek disajikan dengan beragam isian, seperti bayam, keju, telur, sosis, brokoli, dan masih banyak lagi.

Selain itu, masih ada roti tipis dengan isian daging cincang, daun bayam, dan cabai merah yang digiling kasar. Nama menu terakhir ini adalah lemahjune. Lemahjune ini dimakan dengan daun selada.

Pasar ini buka sejak pagi hari mulai pukul 09.00 hingga pukul 21.00 waktu setempat, mulai hari Senin-Jumat. Namun, saat akhir pekan, yaitu hari Sabtu, mereka tutup lebih awal, yaitu pukul 20.00 dan pada hari Minggu tutup pukul 19.00. Jadi jangan harap bisa nongkrong hingga larut malam pada saat akhir pekan di Farmers Market.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau